Makan bereng, yoo

EenJuoy Aaza

Menajamkan pena

Asbun

Jurnal-bebas

Home Jurnal-bebas

Antara siap dan tidak siap

1

Satu hari, dosen salah satu mata kuliah berkata:

“Jangan berdoa, kalau kamu belum siap” Kata beliau.

Lho kenapa?

Ceritanya ketika beliau lulus s1 dan ingin melanjutlkan ke jenjang s2. Ikut program beasiswa di Universitas Negeri yang ada di Jakarta. Hasilnya, beliau lulus.

Tetapi akhirnya beasiswa ini tidak diambil. Kenapa? Karena jam kuliah diatir oleh dosen. Sedangkan beliau beristeri dengan 5 anak. Praktis dengan jadwal kuliah tak tentu karena diatur dosen, berbenturan dengan tugasnya mencari maisyah, nafkah keluarganya.

Kala itu ada teman beliau yang berkata, (sedikit mengomel): “Kamu dzolim dengan tidak mengambil beasiswa itu, kamu dzolim karena kamu telah menjegal, menghalangi hak orang lain untuk mendapatkan beasiswa”.

Kejadian-kejadian lain yang kita alami dalam hidup ini sepertinya ada, bahkan banyak. Tapi kita tidak dapat membuka mata mengambil hikmahnya.

Daintara kita yang menyesalkan hidup karena terjebak dalam daftar pengangguran. Andai berfikir, pekerjaan didunia ini banyak. Tapi kita yang tidak mau melangkah, atau kapasitas kita yang tidak memadai.

Laa yukallifullahi nafsan illa wus’aha. Allah tidak membebankan suatu perkara pada hambanya andai ia tidak mampu menanggung masalah tersebut.

Pernahkan kita mengambil hikmahnya.

Kadang kita bermimpi ingin kaya. Tapi apakah kita sudah siap untuk menjadi kaya?

Seorang sahabat berkata, dalam kalimat mencari rezeki, kata “mencari” berbeda dengan “menjemput”.

Ketika kita menggunakan kata “mencari’. Secara emosional, tidak sadar dan psikologi akan mempengaruhi otak bawah sadar. Bahwa kita hidup didunia ini tidak punya jatah rezeki. Oleh karena itu harus mencari. Jika ingin mendapatkan rezeki.

Maka ketika rezeki (baik harta, kesehatan dnsb), terasa sempit, kita akan sering mengeluh dan terasa sebagai beban yang sangat berat.

Berbeda dengan ketika kita menggunakan kata “menjemput”. “Menjemput rezeki”. Ketika kita menggunakan kata ‘menjemput’, kita yakin, bahwa Allah telah menjamin jatah rezeki kita selama hidup dialam dunia ini. Anda mungkin ditakdirkan kaya raya, tapi apakah cara menjemput rezeki anda sudah baik?.

Kita ambil contoh. Peminta-minta dipinggir jalan, dengan pakaian compang camping. Dekil, kurus, bau, item, kumel kucel dan amsih hidup. Yang didapat, paling hanya sekedar recehan.

berbeda dengan orang yang meminta-minta dengan menggunakan pakaian rapih, jas, kemeja, dasi spatu mengkilat, parfum plus rambut yang mengkilat, hingga andai ada lalat yang nagkring di rambutnya pasti akan terluka he2. Ya, denga pakaian rapi, plus proposal diajukan ke orang-orang kaya, pejabat . Hasilnya akan berbeda. Padahal temanya sama, meminta-minta. Hanya judul dan covernya yang berbeda.

Siap, ya kita harus siap. Bisa saja kita berbohong, membuat CV yang “wah” ketika melamar pekerjaan. Tapi apa anaknya ketika anda diterima, kemudian dipecat karena dianggap tidak kompeten?

Anda yang ingin mempunya isteri yang cantik. Sudah siapkah anda sakit liver (baca: hati) gara-gara tiap hari dilanda cemburu?

Tapi satu sisi dalam hidup ini, kita harus siap. Anda dilahirkan sebagai laki-laki, harus siap menjadi laki-laki, sebab kodratnya memang begitu.

Sekian, Allah a’lam.

datang waktu dhuhur

 

Aku akan memerangi orang yang menyakiti kekasihku…

0

Fakta dianggap dongeng, dan dongeng dianggap nyata. Begitulah yang terjadi di dunia yang sekarang rusak oleh fitnah akhir zaman.

Syeikh Muayyad, mungkin (bukan mungkin, tapi nyata!) oleh sebagian orang di cap sebagai pembuat onar, teroris. Karena memang media, khususnya media Indonesia mengatakan demikian!.

Saya sangat geram. Ketika sebuah media menyebutnya “teroris itu dibebaskan oleh AS”. Lalu ada komentar pembaca yang menulis; “Sudah bau tanah, kok masih belum sadar juga”.

Hai kalian yang telah terbodohi! terbohongi!. Apakah anda tahu siapakah Syeikh Muayyadh?. Beliau adalah seorang lelaki shalih. Yang berusaha membela Islam!. Menggalang dana untuk saudara saudaranya yang tertindas, terkurung oleh keangkuhan ‘kaum kera’ (Yahudi). Anda tentu tidak tahu, bahwa mereka adalah saudara Anda.

Satu berita yang mungkin media penjilat AS, risih memuatnya, padahal ini nyata. Syeikh Muayyad telah lama menjadi incaran AS. Tetapi mereka tak leluasa menangkapnya di negeri asal Yaman. Skenario pun dijalankan. Mereka mengupah seorang intel Yaman untuk membujuknya berobat ke Ordon. Syeikh Muayyad, menurutinya. Sesampainya disana. Beiliau digelandang dan dimasukkan penjara. Dalam keadaan sakit!.

Ternyata AS yang picik, telah membohongi pembujuk Syeik Muayyad. AS tidak memberikan upah sebagaimana telah dijanjikan.

Si Pembujuk yang mendapat tekanan dari berbagai pihak, stress. Sebagai protes, akhirnya ia membakar diri di depan kedutaan AS Yaman. Ia masih hidup dengan setengah mati. Kulitnya terkelupas, mengundang lalat yang terus merubungi. Sungguh menyakitkan.

Itulah adzab yang Allah segerakan. Benar sabda Rasul:

“Man ‘aadaalii walian, faqad aadhantuhu bilharb”

Artinya: “Barang siapa menyakiti wali-Ku (hambaku yang Ku cintai). Maka Aku mengumumkan perang dengannya”. HR. Bukhari.

Allah mencintai seorang hambanya yang selalu taat melaksanakan apa yang telah Dia wajibkan kepadanya. Kemudian ia terus melaksanakan amalan nawafil (perkara sunnah bukan wajib) sampai Alah benar benar mencintainya. Allah mendengar apa yang ia dengar, Allah melihat apa yang ia lihat.
Ketika ia meminta Allah akan mengabulkannya.
Ketika ia meminta perlindungan, Allah akan memberikan perlindungan.

Pernahkah anda jatuh cinta pada seorang gadis? Jangan heran jika anda mengatakan. Gunung pun akan aku runtuhkan karenanya!

Jadilah kekasih-Nya. Sebab kasih-Nya tak pernah ada akhirnya…

Sana’a, 15 November 2009
When I miss…

Muhasabah Tahun Baru

0

Tahun baru. Ya, beberapa hari lagi tanggal satu januari 2010. Kebanyakan masyarakat kita menyambut tahun baru ini dengan suka ria, berpesta pora. Menanti detik detik jam 24.00 pada awal tahun. Atau menyaksikan matahari terbit di ujung timur. Biaya pun dikeluarkan tidak tanggung tanggung. Pemerintah kita mengucurkan dana sekian milyar rupiah untuk di bakar, uang itu digunakan untuk dibelikan kembang api. Pawai, konfoi malam menuju tempat wisata. Euforia menyambut tahun baru ini begitu tinggi.
Lalu, apakah anda juga demikian?
Begitu banyak ironisme di masa ini. Ironisme yang seakan sudah menjadi bumbu kehidupan.
Ironisme betapa kita kagum dan begitu membanggakan tradisi yang disusupkan oleh musuh musuh kita. Kita lupa dan merasa rendah jika mengaku dan memegang teguh identitas sendiri.
Dari sekian kita. Jika ditanya, hari ini tanggal berapa hijriah? Saya yakin hanya segelintir orang saja yang menjawab dengan cepat dan tepat. Yang lain? Waah, sekarang tahun berapa hijriah saja lupa atau tidak tahu. Bahkan bulan dalam setahun tidak hafal. Yang tahu hanya bulan Ramadhan, karena yang di tampilkan di TeVe hanya bulan ini saja.
Saudaraku, saya tidak akan panjang lebar membahas hal ini. Apa itu sejarah hijriah atau masehi, kemudian pengaruhnya bagi kita.
Saudaraku… Posisi ilmu dan kefahaman kita dalam beragama begitu penting.
Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman, dan meninggikan derajar orang orang yang berilmu.
Kenapa Allah membedakan mereka? antara yang beriman dan berilmu.
Kita harus memahami ini. Allah akan meninggikan derajar orang orang yg beriman. Karena ini adalah pondasi, modal atau passport utama bagi manusia supaya amal dan upayanya di dunia di terima oleh Allah. Orang kafir yang tidak beriman, semua amalannya sia sia. Kenapa? Karena ia tidak meyakini Allah sebagai tuhannya.
Kemudian Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu.
Dalam pikiran anda, ilmu apa yang dimaksud dalam ayat ini?
Ilmu mekanikkah, ilmu psikologikah, biologi, atau astronomi?
Mari kita fahami. Logikanya begini: Dalam perlombaan balap karung. Pak lurah memberikan penghargaan kepada semua peserta dan semua juara.
Saya bertanya. Pak lurah memberikan penghargaan kepada juara apa? juara catur, balap sepeda, atau menari?
Tentu anda menjawab; Pak lurah memberikan penghargaan kepada juara balap karung. Jika jawaban tidak demikian, tentu jawabannya ngawur.
Begitu juga dalam ayat ini. Orang yang berilmu adalah orang yang berilmu dalam keimanannya. Seperti juara dalam perlombaan balap karung, bukan sekedar peserta, tetapi ada nilai plus. Yaitu juara. Tentu juara berbeda dengan peserta yang tidak menjadi juara.
Begitu juga dengan keimanan kita. Kita mungkin beriman. Tapi apakah keimanan anda dilandasi dengan kefaqihan, kefahaman kita tentang arti iman itu sendiri. Atau hanya ikut ikutan, sehingga ketika dilontarkan syubhat atau pertanyaan yang merusak, meragukan keimanan. Mudah saja ia berpaling dan meninggalkan keimanan.
Para ulama memiliki dua pendapat tentang keimanan seorang muqalid (ikut ikutan).
Pendapat pertama menyatakan bahwa keimanan mereka tidak diterima atau tidak syah. Dengan dalil firman Allah:

Artinya: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm: 39).

Dengan dalil ini, mereka mengatakan; orang yang taklid/ikut-ikutan, tidak berusaha dalam keimanannya, maka tidaklah memiliki iman. Karena jika yang mereka ikuti kafir, maka akan menjadi kafir juga.

Pendapat kedua menyatakan, keimanan mereka diterima. Dengan dalil, bahwa ketika seorang terlahir, telah ada fitrah keimanan. Dengan dalil:

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu.” (QS. Ar-Rum: 30).

Sabda Rasul salallahu ‘alaihi wasalam:

كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه،،،،،، (البخارى و مسلم)

Artinya: “Setiap anak terlahir dengan fitrah (keimanan), maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan ia yahudi, nasrani atau majusi”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Masih banyak lagi keutamaan berilmu dalam beriman, diantaranya firman Allah:

Artinya: “Diantara hamba hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama (berilmu)”. (QS. Faatir: 28).

Saudaraku, sungguh jatah umur kita di muka bumi ini hanya sekejap saja. Umur kita kian hari kian berkurang. Maka selayaknya di penghujung tahun ini kita bermuhasabah. Karena berarti jatah hidup kita semakin berkurang.
Mari setulus hati bertanya pada diri, amalan apa yang telah kita perbuat. Coba timang dengan kejujuran, lebih banyak mana, kebaikan atau keburukan. Adakah satu saja amal yang telah kita lakukan, yang terbaik dan kita yakin Allah meridhainya.
Saudaraku, tentu sudah tahu kisah tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Batu besar menutupi mulut gua tadi. Hingga mereka tidak dapat keluar.
Salah satu dari mereka berkata: “Ditempat ini kita tidak bisa meminta pertolongan kepada siapapun. Mari kita berdoa kepada Allah dengan perantaraan (wasilah) amal perbuatan terbaik yang pernah kita lakukan”.
Kemudian mereka berwasilah dengan amal masing masing, sedikit demi sedikit, batu yang menutupi gua bergeser dan akhirnya mereka dapat keluar.
Saudaraku, mari kita bayangkan, kita adalah pelaku dalam cerita tadi. Kemudian ditanya; “Amal terbaik apa yang anda lakukan setahun yang lalu?” Coba renungkan. Apakah anda menemukannya? Hitung, ada berapa? Satu, dua, tiga, atau anda tidak mengingatnya?.

Saudaraku, mari kita bayangkan, kita adalah pelaku dalam cerita tadi. Kemudian ditanya; “Amal terbaik apa yang anda lakukan setahun yang lalu?” Coba renungkan. Apakah anda menemukannya? Hitung, ada berapa? Satu, dua, tiga, atau anda tidak mengingatnya?.
Yang harus kita pegang erat dalam berbuat adalah:
Pertama, Ikhlas. Sebagai orang yang beriman, kita harus memahami ikhlas dengan benar. Karena orang yang tidak berimanpun memiliki prinsip ikhlas. Ikhlas bagi kita, berarti kita melakukan segala sesuatu hanya karenaNya, mengharap ridha dari-Nya. Ini yang membuat perbuatan kita menjadi bernilai.
Kita tahu, diantara cara menyuburkan keimanan adalah dengan meninggalkan maksiat “karena” Allah. Jika anda meninggalkan maksiat karena manusia, atau tidak mampu melakukannya. Tidak akan menjadi nilai amal baik di sisi Allah.
Mencintai seseorang karena Allah. Allah akan mencatatnya sebagai kebaikan.
Bagaimana mencintai karena Allah?
Ketika melihat saudara kita melakukan banyak kebaikan, beramal shalih. Kita berasumsi, Allah mencintai orang ini. Maka karena Allah mencintainya, kita mencintainya.
Saudaraku, Syaithan begitu lihai dalam menggelincirkan manusia. Makna ikhlas kadang menjadi bias.
Kedua adalah; harus sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Rasulullah. Haji dilaksanakan di Makkah pada bulan dzilhijjah, maka jika melaksanakan di tempat lain dan bulan lain, walaupun ikhlas karena Allah. Itu tidak benar.
Lalu, jika kita pawai atau menghambur hamburkan uang hanya untuk membeli kembang api. Apakah ada tuntunan Rasulullah tentangnya?
Mari kita memuhasabah diri. Menengok hari lalu, memilah amal baik yang harus terus kita jaga dan tingkatkan. Menghapus dan mengubur amalan buruk.
Seperti perkataan Ali ra:

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحسبوأ

Evaluasilah dirimu sebelum kamu di evaluasi.

Mari kita bangun hari esok untuk lebih baik.

Wallahu a’lam bi shawwab.

Sana’a 24/12/2009. Qoah awal alif.

900SubscribersSubscribe

Popular Posts

My Favorites

Install WordPress Multisite pada subdomain

Semenjak update wordpress versi 3.0, Wordpress memberi kemudahan dalam fasilitas multisite. yang mengijinkan kita mengggunakan banyak website dalam satu installasi. Namun secara default, Wordpress multisite...

Sharpening my pen