Jurnal-bebas

Home Jurnal-bebas

Menajamkan pena

0

Lupa, ya siapa yang tak pernah merasa lupa. Ibarat pisau yang tak pernah dipakai atau diasah, ia akan semakin tumpul.
Demikian juga otak manusia, perkembangannya dari masa kanak-anak, remaja, dewasa dan tua. Fase setelah usia kita senja kemampuan kita tidak setajam ketika kita masih belia.
Maka diaumpamakan juga; belajar diwaktu kecil seperti mengukir diatas batu, dan mengukir di masa tua, ibarat mengukir diatas air. Mengukir diatas batu, akan membekas sampai lama, walau ketika mengukirnya harus keras. Sedang mengukir diatas air, apa artinya? ia akan sedemikian cepat hilang.
Tapi ada beberapa tips agar kita tidak cepat lupa, yaitu dengan mengulang ulang.
Kita semua pernah menjalani pendidikan sekolah dasar. Ketika itu kita bisa mengisi soal-soal dengan rapi dan benar. Tapi akan kah saat ini kita masih mampu seperti dulu? tentu tidak, karena akan banyak yang lupa. Kecuali bagi anda yang memang masih konsen dibidang pendidikan dan keilmuan. Tapi yang kemudian setelah dewasa memiliki profesi lain, tentu akan semakin banyak terlupa.
Maka kenapa kita diajarkan untuk menulis, mencatat setiap ilmu yang kita dapatkan. Karena ketika kita mencari ilmu atau belajar, diibaratkan kita sedang berburu. Ketika mampu mendapatkan hewan buruan, ikatlah dia dengan tali yang kuat. Sebab jika ia dibiarkan begitu saja, tentu akan pergi dengan sendirinya.
Pandai berorasi, berpidato saja tidak cukup. Ini karena beberapa sebab; objek yang menerima hanya orang-orang yang hadir di lokasi, dan cenderung hanya segelintir saja. Juga waktunya hanya saat itu saja. Terbatas, waktu dan tempat.
Tetapi ketika kita mencatat, ketika mendokumentasikan apa yang kita dapat, Ini akan lebih bertahan lama.
Mencatat bisa dengan bentuk tulisan. Juga pada masa ini, bisa juga dengan merecord dengan kamera atau video.
banyak sekali arti penting kemampuan menulis ini.
Tapi kadang kita malas, tidak mampu menulis, padalah laptop sudah menyala, tapi otak seakan mati lampu. gelap ide.
yach, seperti halnya saya, tulisan ini pun entah maksudnya apa, yang penting Heppy he2, bisa nulis.
Karena memang tips supaya kita bisa menulis hanya dua.
Menulis dan terus menulis :-) Teori saja gak cukup, seperti halnya renang. Anda tidak usah membuat karya ilmiah, puisi, status pengumuman atau sebagainya yang menyatakan bahwa anda mahir berenang. Tapi buktikanlah dengan mencemplungkan diri di kolam renang. Manusia akan melihat, gaya apa yang akan anda tunjukan. Gaya kupu-kupu atau gaya batu (alias tenggelam).
Begin from small and act Now.

Belajar menulis dengan belajar berbagi.

0

Bismillah, setelah niat, program, resolusi tercata rapi. kunci selanjutnya adalah action atau pelaksanaan. Namun nyatanya langkah inilah yang terberat. Penyakitnya adalah malas. Sebenarnya mudah sekali melawan malas. Ada mantra yang manjur untuk mengobati penyakit malas ini. Anda mau? sebagian anda mungkin tau. Ya, mantranya adalah “Allamumma, paksakeun” artinya niatlah, kemudian memaksakan diri untuk bergerak :-D. Niscaya akan terbuka lebar jalan yang tadinya tertutup rapat.

Demikian halnya dengan menulis, menulis sebenarnya mudah saja, cukup pegang ballpoint dan mulai coretan diatas kertas. Atau mulailah mengetukan jari jemari diatas tuts keyboard laptop kesayangan anda. Tuangkan apa yang ada dalam pikiran anda :-D. Namun kadang tak semudah seperti apa yang saya katakan memang :-D.

Jalan termudah, ini menurut saya ya. Jika anda memilik masalah, kemudian anda menemukan solusinya, tuliskan lah, dalam hal apa saja. Bidang apapun yang kita temui. Contohnya saya sering kali mendapati masalah penambahan fitur wordpress, kemudian ketika saya menemukan solusi, saya coba menuliskannya. Contoh lain, misalnya suatu hari kita ditangkap polisi, namun dengan sedikit trik, kita bisa lepas dari membayar tilang. kasus seperti ini layak anda tuliskan. Contoh lain, misal didaerah anda termasuk sulit mendapatkan sinyal modem, kemudian anda menemukan solusinya dengan membuat antena dari kaleng bekas obat nyamuk spray. Mulailah menulis :-D. Ini yang saya alami.

Saya menemukan beberapa “petuah” yang mirip. Ust. Yusuf Mansur tersohor dengan materi shadaqah, beliau selalu menkankan, bahwa dengan banyak bersedekah, Allah akan membuka pintu rizqi yang berlimpah. Tentu didukung dengan perilaku kita yang terus menjalankan ajaran Rasul denga baik dan benar. Beberapa webmaster, webdesigner dan beberapa pakar dunia maya memberikan tips yang sebenarnya mudah jika kita tau dan mau menjalankannya. Kita tidak usah mempelajari semua keahlian dari akar hingga pucuk dahulu, kemudian baru melangkah. Namun mulailah belajar dari awal, kemudian setelah selesai mempelajari suatu ilmu, tuliskan. Tuliskan semua hal yang telah kita pelajari. Tuliskan semua yang telah kita praktekkan. Tuliskan semua yang telah kita temukan.

Kita menyadari bahwa perkembangan teknologi berkembang pesat dan cepat, jika kita bersikukuh menyimpan pengetahuan yang kita miliki, tanpa mau berbagi dan mengembangkan ilmu yang kita miliki. Cepat atau lambat, kita akan ketinggalan dan tersalip oleh pendatang-pendatang baru. Jangan berfikir bahwa berbagi akan merugikan kita, justeru dengan berbagi ilmu, pengetahuan yang kita miliki akan terus berkembang.

Belajar menulis dengan belajar berbagi.

Belenggu kata-kata

0
jangan-belenggu-kata-kata
jangan-belenggu-kata-kata
jangan-belenggu-kata-kata
jangan-belenggu-kata-kata

Apalah arti sebuah kata, he2 nama apa kata ya. Namun dengan kata kita bisa mengungkapkan apa yang ingin kita sampaikan. Berhati hatilah dengan kata-kata. Banyak wejangan tentang bagaimana kita harus berkata dan menggunakan lisan, lidah kita yang tak bertulang ini.

Pagi hari ini saya menemukan dua bukti betapak berpengaruh kekuatan kata pada psikologis seseorang.

Di satu group facebook, seorang rekan perempuan “keukeuh” tidak bersedia diamanahi tugas presentasi pada suatu acara yang akan dilaksanakan. Padahal beliau  salahsatu motor penggerak yang aktif, baik di dunia maya, maupun nyata. Saat manjadi mahasiswa aktif dalam keorganisasian, bahkan sekarang menjadi wartawan. Profesi yang tak mungkin dapat dilaksanakan oleh seorang yang pendiam, tak mau bergerak. Tapi kenapa beliau tidak mau mempresentasikan laporan tahunan? Sampai-sampai memberikan ultimatum, jika amanah itu tetap dibebankan padanya, Ia menyatakan tak akan hadir.

So What? Ternyata penyebabnya, beliau pernah trauma, pada suatu hari saat sekolah. Saat itu tak dapat menjawab soal pelajaran Bahasa Arab, sehingga dipanggil ke depan kelas dan Guru pengajar membentak dengan kata2 negatif.

Waktu saya masih kelas dua Mts, saya pernah diminta untuk menjawab soal bahasa Arab ke depan kelas oleh Guru, karena saya ga bisa menjawab soal, Guru itu memarahi saya di depan teman-teman, “masa soal semudah itu saja tidak bisa???”, meski teman-teman saya tidak menertawakan tapi tetap saja saya malu…

Ini bukan hanya perkara ketidakpercayaan diri tapi lebih dari itu…

Kata2 guru ini ternyata membekas dalam alam bawah sadar hingga kini, lulus kuliah dan telah bekerja.

Yang kedua, ketika membaca blog Pak Jamil Azzaini yang berjudul “Candaan Bisa Menjerumuskan” Beliau bercerita:

Saat kecil dulu saya menjadi bahan tertawaan karena bila pelajaran mengarang kalimat pertamanya pasti “pada suatu hari”. Salah satu guru saya berkata, “Kamu tidak punya bakat menulis, kamu cuma pinter menulis pada suatu hari.” Mendengar ucapan itu teman-teman saya tertawa.

Dampaknya bagi saya begitu panjang. Setiap pelajaran bahasa Indonesia dan ada tugas mengarang, saya selalu ketakutan. Ironisnya, saya mengalami kesulitan mencari kalimat lain untuk pembuka tulisan selain kata “pada suatu hari”. Dan itu berlangsung begitu lama hingga saya kuliah di IPB. Candaan tersebut begitu menyiksa saya.

Hemm… Dahsyat memang sebuah kata. Saya pribadi pernah mengalaminya. Kita tau apa yang disebut dengan sugesti, sebuah proses dimana seseorang mempengaruhi orang lain. Sugesti yang positif seperti nasihat, tentu sangat baik sekali. Namun sugesti yang timbul dari emosi yg tak terbendung, sugesti negatif akan sangat fatal.

Sebagai seorang guru, orang tua, ayah, bunda, kaka…. atau apapun. Baik yang tua pada yang muda, atau yang muda kepada yang tua.

Allah melarang kita berkata Ufh atau Ah dalam bentuk membantah, membangkang kepada orang tua. Begitupun orang tua diajarkan berkata yang baik pada anak-anaknya.

Kita harus berhati-hati. Qul khairan aw liasmut, berkatalah yang baik, atau diam. Adakalanya kita harus diam, adakalanya kita wajib angkat bicara.

900SubscribersSubscribe

Popular Posts

My Favorites

Posting blog dari "hape"

Bismillahirrahmaanirrahim. Kali ini saya ingin berbagi cara posting blog dari hape. Mengenang masa masa silam (he2), ketika akses internet harus ke warung internet. Beruntung saat...