Jurnal-bebas

Home Jurnal-bebas Page 3

Nulis di Blog? Guampaang…

0

0071Ada mungkin yang menganggap, ngeblog hanya kerjaan pengangguran. Tapi ada juga yang berfikir positif, ngeblog sebagai aktifitas yang baik. Salah satunya dengan ngeBlog, seseorang akan terbiasa menulis, dan otomatis seorang blogger perlu bahan untuk menulis.
Sangat mustahil sebuah teko akan mengisi gelas dengan air, jika teko tersebut kosong. Nah, seorang blogger butuh bahan-bahan untuk ia tuangkan dalam tulisannya.
Bagaimana mendapatkannya? Gampang, bisa dengan membaca buku, majalah, berita. Atau apa yang ia lihat, dengar dari lingkungannya jika sedikit kreatif.

Biar gak ada dompet, asal ada yang bayarin.

0

Ini ceritaku, rasanya sayang kalo terlewat begitu saja. Biarlah sobat menertawaiku, bilang kacian atau apalah.

“Tragedi” ini terjadi hari ahad lalu. ini hari senin tapi sudah masuk selasa, sebab jam sudah menunjukan pukul 00.35 :-) berarti sehari yang lalu. Yach, lumayan masih anget.

Hari ahad, hari libur bagi sebagaian makhluk di muka bumi ini he2. Tapi ada sebagian manusia yang menggunakan hari ini layaknya aktifitas hari-hari lain. Ya, diantaranya aku. Hari ahad merupakan salah satu dari tiga hari masuk kuliah kampus.

Ok, jadwal minggu ini kebetulan ada UAS makul Tafsir semester tujuh. Dosen pembimbingnya Prof. Drs. Dr. Ahmad Thib Raya, MA. Sebuah keberuntungan bagi kami, diberi kesempatan bertatap muka dengan dosen yang berkaliber nasional bahkan internasional. Sampai-sampai beberapa dosen berkata; “Kami hanya dapat diajar oleh beliau di jenjang s2 minimal, atau s3”.

Sebuah kebanggaan, walau parameter keilmuan tidak bisa diukur oleh fasilitas yang lux, tanpa diimbangi oleh faktor-faktor penunjang lain, yang utama adalah motivasi dan kesungguhan dari individu mahasiswa sendiri.

Masuk ke poin cerita. Keluar dari ruang ujian pukul sebelas limapuluh. Shalat dhuhur. Alarm perut sudah berbunyi. Koneksi tersambung ke otak dan dieksekusi oleh pikiran. “Apa yang ane santap?”.

Jalan ke kantin, bangku terisi penuh. Akhirnya jalan keluar depan gerbang kampus. Target biasanya batagor, tapi kali ini perut sedang ingin mencoba somay. Em, di bangku ternyata sudah ada dosen, Pak Rahmat Irfani. Dosen muda, berperawakan tinggi, putih, rambut cukur tipis dan berkacamata. Ku kira beliau pesan somay juga. Ternyata bukan, beliau memesan ketoprak.

Awalnya agak sungkan duduk bersebelahan. Tapi karena aspirasi perut yang terus meronta dan memberontak. Kuputuskan tegur sapa dan duduk didekat beliau.

Sambil menikmati siomay, obrolan ringan sampai berat pun mengalir beitu saja. Mulai dari topik kampus hari ini. Sampai cerita perjalana akademis beliau, yang sekarang sedang menyusun disertasi untuk mendapatkan gelar doktor.

Dengan berbekal ilmu quantum listening (he2). Aku mendengarkan dengan penuh antusias, dan sesekali bertanya. Sampai tak terasa somay yang aku santap, habis.

Kuletakan piring dibawah bangku. Tangan masuk kantong celana depan sebelah kiri. Kosong, gak ada uang. Kurogoh kantong celana sebelah kanan. Kosong. Dompet di kantong belakang. Juga kosong. Rupanya dompetku tertinggal di rumah. Alah mak…. Sejenak otak ku crash, not responding, bingung, mo bayar gimana neh.

Tapi aku menutupi kegalauan yang melanda. Dan terus melanjutkan obrolan dengan Pak Dosen. Ketoprak beliau belum habis. Aku mendahului menghabiskan somay, mungkin karena suka, atau mungkin juga kelaparan. Ah, up to you aja dech, mo kira apa.

Akhirnya piring ketoprak yang sedang disantap Pak Rahmat, habis. Beliau berdiri dan mendekati tukang somay, yang tadi aku nikmati. Beliau mengeluarkan uang dan bilang, bayar somay yang aku santap. Duh, malu ada, pengen ketawa juga ada. :-)

Moga kebaikannya  Allah balas dengan kebaikan, karena Allah sebaik-baik pemberi balasan.

 

Tangerang, 01:00 08/03/2012

tuk Kekasihku…

2

Hanya Engkau tempat ku berlabuh…
Melepas beban
Mengenyah gundah..

Ku hanya manusia naif…
Begitu sering ku lupa dan melupaMu…
Kala Kau beriku kelapangan..

Tapi ku yakin akan AsmaMu…
Kau Maha Pemurah
Kau Maha Penyayang

Hanya kepadaMu ku mengadu…
Berilah ku kekuatan tuk selalu taat kepadaMu…

Ya Rabb Penguasa langit dan bumi..
Izinkan aku mengiba..
Meratap…

Sungguh ku tak kuasa mengarungi semua ini…
TanpaMu…
Tanpa RahmatMu…

Jadikan detik waktu ku lalui…
Degup jantung..
Hembusan nafasku…
Tasbih yang selalu MemujiMu…

Tundukku PadaMu..
Sujud dan simpuhku hanya untukMu…

Kau tempat ku mengiba…
Berikanlah lentera cahaya bagi nuraniku yang pekat…
Tuntunlah aku untuk selalu berpijak di atas jalanMu..

Wahai Engkau yang Maha Mengetahui..
Mengatahui segala rahasia..
Di langit dan di bumi..
Kau mendengar jerit hatiku…
……………………..
Kau mendengar ratap jiwaku…
…………………..

Langkah ini ringkih tertatih…
Perjalanan ini begitu berat bagiku…

Ya Allah…
Aku memohon segala kebaikan darimu…
Yang Kau segerakan dan yang Kau tunda…
Yang ku ketahui dan tak ku ketahui..

Ya Allah…
Hindarkanlah aku dari segala keburukan…
Yang ku ketahui dan tak ku ketahui…

Maha Suci Engkau…
Tak ada kekuasaan…
Tak ada kekuatan bagiku…
Kecuali Engkau..
…………………….

Laa haula wa laa quwwata illa billah

========
Sudut kamar 35 Al-Faruk, 06/12/2009

900SubscribersSubscribe

Popular Posts

My Favorites

Adnin Armas – The Dewesternization of Knowledge – SMN Al-Attas

Rangkaian diskusi dua pekanan seri terakhir “Pijar-Pijar Pemikiran Syed Muhammad Naquib al Attas” (28/12/2012) yang sedianya diisi oleh Dr. Nirwan Syafrin. Namun dengan lain hal, beliau berhalangan...