Jurnal-bebas

Home Jurnal-bebas

Asbun

0

lukman-elhakim.com: Asbun, alias asal bunyi. Kalo terompet bunyi, apapun bunyinya, menjadi tanda keberhasilan pembuat terompet.

Kenalpot bunyi, berarti motor atau mobilnya masih bisa hidup. Bayi yang baru lahir kemudian bunyi (baca: nangis), suatu kebahagiaan bagi orang taunya.

Tapi kalau manusia dewasa yang mempunyai kebiasaan asal bunyi alias asbun. Akan jadi penyakit dan cacat yang memalukan. memalukan bagi orang tua, mertua, isteri, suami, anak, engkong, tante, dan seluruh rt, kelurahan, juga negara Indonesia yang kita diami ini he2. Tapi anehnya, orang yang asbun, jarang, bahkan tidak akan merasa malu. Sebab itu sudah penyakit bagi dirinya. Seolah buang angin dengan wangi busuk (wangi busuk ya?). Nyamuk bisa mati, cicak gemetar, manusia yang ada disampingnya bisa pingsan. Tapi dia yang buang angin, tersenyum manis, semanis kopi gak pake gula (pait jadinya).

Ya, begitulah asbun. Banyak sekali penyebabnya. Entah karena ingin dipandang sebagai seorang pakar yang kompeten dibidangnya. Sehingga sangat layak menjadi idaman para calon mertua he2.

Asbun memang bisa menjadi wasilah penghidupan (he2). Anda yang pintar memuji, layak mendapat imbalan. Kasus ini biasa dikenal dengan isitilah ABS atau AIS. Asal Bapak Senang, atau Asal Ibu Senang. Dan memang efektif. Semakin anda pandai melobi manusia-manusia serakah pujian, makan akan terbuka pintu untuk mempertebal dompet anda.

Dampak dari merambahnya situs jejaring pun turut menyuburkan penyakit ini (ma..aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaf he2). Bagi yang merasa sich. Kadang ke kamar mandi, pusing kepala dikit, digigit nyamuk, keseleo, bokek (malu-maluin kalo ini). Dipajang di wall status Facebook. Apakah ini juga termasuk kategori asbun?. Tapi biasanya gejala ini sering diidentifikasi sebagai penyakit lebay bin lebong he2. Up to you dah.

Anda akan banyak menemui si Asbun ini. Sperti halnya saya baru menemukannya ketika membaca tulisan: Dalam Pendidikan Karakter, Berzina Belum Tentu Dosa di Eramuslim. Ada seseorang yang dengan lantang berteriak:

Pertanyaannya, kenapa pendidikan karakter ala Barat bisa membuat masyarakat di Barat itu on time, bersih, disiplin, dll ; sementara Indonesia yang mayoritas muslim gagal membentuk masyarakat yang on time, bersih, disiplin, dll ?
Apakah sistem pendidikan kita (yang katanya Islami itu) tidak memandang on time, bersih, dan disiplin itu sebagai hal yang penting ? Atau cara mendidiknya yang salah ?

Em, Entah dari sudut pandang mana berfikirnya. Mestinya pembaca Eramuslim yang nota bene menyarakan Islam dengan pemahaman yang cukup baik. Pola pikirnya telah terbina. But, ya itulah. Fakta memang membuktikan. Kata-kata Muhammad Abduh: Al-islamu mahjubun bil muslimin masih nyata sampai saat ini. Sampai akhir ketika Isa Almasih di akhir jaman saja sepertinya akan berakhir.

Kita sering keliru, mana ajaran islam yang benar. Dengan mana aplikasi muslim yang kadang keliru. Contohnya tentang kebersihan. Islam telah mengajarkan pentingnya kebersihan. Detail. Mulai dari mandi, berwudlu, macam-macam najis, sampai air yagn suci dan tidak suci ada perinciannya. Mana ada di ajaran lain yang menjelaskan seperti ini?

Hanya aplikasinya memang masih kadang menyimpang. Maka tidak heran jika seorang alim berkata. Aku menemukan ajaran Islam di singapura, tapi tidak menemukan muslim disana. Artinya, ajaran kebersihan seperti diajarkan oleh Islam, telah dilaksanakan di Singapura. Walau yang melaksanakannya bukan musliam.

Kemudian. Aku menemukan muslim di Indonesia, tapi tidak menemukan ajarannya disini. Kaum muslimin di Indonesia banyak, tapi masih sedikit yang menjalankan Islam sesuai dengan ajarannya secara menyeluruh :-)

Demikian juga dengan asbun. Asal bunyi dalam Islam juga tidak luput dari pembahasan. Seperti: Falyaqul Khairan, auliyasmut. (berkatalah yang baik, atau diam), Al-lisanu kassaif, fain taqtaha, yaqtaka (lidah ibarat pedang, jika kamu tidak menggunakannya, dia akan menebasmu).

Em, termasuk asbun kah kita?

 

Tangerang, 09-03-2012

Harus bisa merasa, tidak hanya merasa bisa…

3

“Kerja keras adalah harga mati yang harus di bayar untuk sebuah kesuksesan”. kira-kira seperti itu kata-kata yang dituliskan oleh Bruce Lee, aktor kungfu legendaris dari cina.

Harga, ya. Untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, kita harus membayar seharga dengan apa yang kita inginkan itu.

Apakah anda akan mendapatkan Pitza? jika anda hanya memiliki uang lima ratus rupiah.

Ya, uang lima ratus rupiah paling banter dapet bala-bala bin bakwan.

Apakah anda akan ngotot menjual bakwan dipinggiran jalan dengan harga dua puluh ribu rupiah per biji? padahal orang bisa mendapatkan bakwan serupa dengan harga lima ratus rupiah.

Jadi, untuk mendapatkan, kita harus mengeluarkan ongkos sesuai dengan harga barang yang kita inginkan.

Dan untuk menjual barang barang dengan harga tinggi, kita harus menjadikan harga barang yang kita jual menjadi bernilai lebih.

Semuanya ada harga yang harus kita bayar. Dan harga tidak hanya berbentuk uang, tapi bisa juga nilai diri kita. Nilai apa yang kita jual.

Seorang musisi akan dibayar mahal, karena mereka memang mempunyai nilai popularitas dan profesional yang tinggi.

Tapi seorang pengamen jalanan, akan dibayar murah bahkan mungkin sering kelaparan, padahal energi yang dia keluarkan lebih keras dari pada seorang musisi terkanal ketika pentas diatas panggung.

Why? siapa yang protes?

Ini yang mendasari judul diatas “harus bisa merasa, tidak hanya merasa bisa”.

Kita semestinya lebih pandai lagi melihat diri, muhasabah atau instrospeksi.

Kita kadang menginginkan sesuatu, tapi kita tidak bertanya; “Pantaskah aku mendapatkan yang aku inginkan?”.

“Ihfadzillah, Allah yahfadzuk” (aw kama qaal) “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu”.

Kita sering meratap pada Allah, ketika ujian menerpa, ketika datang kesedihan. Saat itu kita Memohon dan meminta… Lalu merasa, kenapa Allah tidak mengabulkan dia kita?

Hem, sudahkah kita menjaga Allah dalam hati kita. “imtishal awamirihi, wa ijtinab min nawahihi”. Melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangannya.

Kita akan malu meminta nilai bagus pada dosen, jika kita merasa jarang masuk kelas, tidak mengerjakan tugas, tidak dekat, atau bahkan tidak kenal.

Jadi, kita harus merasa juga, kepantasan diri ini untuk mendaptkan apa yang kita inginkan.

Dalam Al-Qur’an, Allah berkata ” At-tayibu li tayyibat…” Lelaki yang baik, sepantasnya mendapatkan perempuan yang baik. Begitu pula sebaliknya.

Jika kita ingin mendaptkan pasangan atau teman yang baik, kita harus memperbaiki diri kita.

——

Yaa mu’alima sulaimana ‘allimna, wa yaa Mufahima Ibromima Fahhimna…

Antara Pisang dan Durian

0

Dalam satu kesempatan Pak Ahmad Ghazali (Seorang Praktisi Perencana Keuangan Muslim). Mengatakan, bahwa penyebab banyaknya terjadi kegagalan adalah karena selalu mencari pisang yang mempunyai rasa durian. What’s mean? Apa maksudnya?
Mari kita badingkan antara pisang dan durian. Ada beberapa perbedaan yang mencolok antara keduanya.


Pisang. Buah pisang gampang dicari di toko toko buah-buahan. Menanam pohonnya mudah. Dan berbuah juga mudah, terus menerus, tidak mengenal kata musim. Maka dengan beberapa kemudahan inilah buah pisang dihargai relatif murah.

Durian. Buah ini hanya dipanen pada musim musim tertentu. Menanam dan memeliharanya pun perlu keuletan. Banyak yang suka durian, karena cita-rasanya yang memang berbeda. Banyak yang tertipu ketika membeli, tapi demikian, tak akan kapok untuk mencoba membeli kembali. Nah, dengan sederet keistimewaan, kesulitan dan keunikan inilah, harga durian lebih tinggi melampaui harga pisang.
Jual pisang mudah, tapi harganya murah. Jual durian susah, dengan berbagai konsekuensinya. Tapi harganya pun juga lebih menguntungkan.
Konsekuensi hidup juga demikian. Untuk bisa sukses, manusia harus berusaha untuk mencapainya. Tak ada kata untuk berleha-leha.
Tak ada pisang yang memiliki cita rasa seperti durian. Dalam arti, orang yang tak pernah berusaha serius untuk mencapai cita-citanya. Hasilnya pun tak akan memuaskan.
Harga Kita adalah perlakuan kita terhadap diri kita masing masing. Jangan pernah mengharap kita akan dihargai oleh orang lain, jika kita sendiri pun tak pernah menghargai diri sendiri.
Orang lain menilai kita. Bukan karena apa yang kita ucapkan. Tetapi manusia hanya menilai dan melihat apa yang telah kita lakukan.
Jika anda ingin dihargai oleh teman. Berbuat baiklah dengan teman anda. Koreksi diri kita. Sudahkah kita menjadi sahabat yang baik?
Jika anda ingin mendapat pasangan yang baik. Berlaku baiklah pada diri sendiri. Karena orang yang baik, hanya akan mencari orang yang baik juga.
Jika anda mengharap curahan air satu ember. Anda harus mempersiapkan ember kosong untuk menampung air yang anda inginkan. Jika anda hanya mempunyai sebuah gelas. Akan sia-sia saja jika pun anda diberikan air seember. Karena anda tak akan mampu menampungnya. Apa lagi jika gelas anda sudah penuh. Air yang anda dapatkan tak akan masuk, akan luber berantakan begitu saja.
Jadi, ingin jadi apapun kita. Siapkan dari diri kita masing masing. Jika tidak siap, saya sarankan; jangan pernah berharap!.

900SubscribersSubscribe

Popular Posts

My Favorites

Makan bereng, yoo

  Kenangan... Asyiknya makan bareng ya.... Nikmat banget....

WordPress multi language