Jurnal-bebas

Home Jurnal-bebas

Belajar menulis dengan belajar berbagi.

0

Bismillah, setelah niat, program, resolusi tercata rapi. kunci selanjutnya adalah action atau pelaksanaan. Namun nyatanya langkah inilah yang terberat. Penyakitnya adalah malas. Sebenarnya mudah sekali melawan malas. Ada mantra yang manjur untuk mengobati penyakit malas ini. Anda mau? sebagian anda mungkin tau. Ya, mantranya adalah “Allamumma, paksakeun” artinya niatlah, kemudian memaksakan diri untuk bergerak :-D. Niscaya akan terbuka lebar jalan yang tadinya tertutup rapat.

Demikian halnya dengan menulis, menulis sebenarnya mudah saja, cukup pegang ballpoint dan mulai coretan diatas kertas. Atau mulailah mengetukan jari jemari diatas tuts keyboard laptop kesayangan anda. Tuangkan apa yang ada dalam pikiran anda :-D. Namun kadang tak semudah seperti apa yang saya katakan memang :-D.

Jalan termudah, ini menurut saya ya. Jika anda memilik masalah, kemudian anda menemukan solusinya, tuliskan lah, dalam hal apa saja. Bidang apapun yang kita temui. Contohnya saya sering kali mendapati masalah penambahan fitur wordpress, kemudian ketika saya menemukan solusi, saya coba menuliskannya. Contoh lain, misalnya suatu hari kita ditangkap polisi, namun dengan sedikit trik, kita bisa lepas dari membayar tilang. kasus seperti ini layak anda tuliskan. Contoh lain, misal didaerah anda termasuk sulit mendapatkan sinyal modem, kemudian anda menemukan solusinya dengan membuat antena dari kaleng bekas obat nyamuk spray. Mulailah menulis :-D. Ini yang saya alami.

Saya menemukan beberapa “petuah” yang mirip. Ust. Yusuf Mansur tersohor dengan materi shadaqah, beliau selalu menkankan, bahwa dengan banyak bersedekah, Allah akan membuka pintu rizqi yang berlimpah. Tentu didukung dengan perilaku kita yang terus menjalankan ajaran Rasul denga baik dan benar. Beberapa webmaster, webdesigner dan beberapa pakar dunia maya memberikan tips yang sebenarnya mudah jika kita tau dan mau menjalankannya. Kita tidak usah mempelajari semua keahlian dari akar hingga pucuk dahulu, kemudian baru melangkah. Namun mulailah belajar dari awal, kemudian setelah selesai mempelajari suatu ilmu, tuliskan. Tuliskan semua hal yang telah kita pelajari. Tuliskan semua yang telah kita praktekkan. Tuliskan semua yang telah kita temukan.

Kita menyadari bahwa perkembangan teknologi berkembang pesat dan cepat, jika kita bersikukuh menyimpan pengetahuan yang kita miliki, tanpa mau berbagi dan mengembangkan ilmu yang kita miliki. Cepat atau lambat, kita akan ketinggalan dan tersalip oleh pendatang-pendatang baru. Jangan berfikir bahwa berbagi akan merugikan kita, justeru dengan berbagi ilmu, pengetahuan yang kita miliki akan terus berkembang.

Belajar menulis dengan belajar berbagi.

Bukan kambing…

0

Kalau saja seekor kambing, ditawari dua keranjang. Keranjang rumput dan keranjang emas. Kambing akan memilih keranjang rumput. Lain halnya dengan manusia yang mengetahui nilai dan harga emas, ia akan memilih keranjang emas. Kalaupun manusia, tapi ia tak kenal ‘peradaban’, tak kenal nilai emas. Yang ia tahu hanya beternak kambing, maka pilihannya akan sama dengan pilihan kambing. Ia akan memilih keranjang rumput.
Sebagai manusia yang dikaruniai akal, kita seharusnya pandai menggunakan potensi ini. Potensi berfikir, melihat dan mendengar.
Apalagi sebagai seorang muslim harus mampu memilah mana yang seharusnya dikerjakan dan mana yang mesti dijauhi.
Salah satu syarat kita unutuk mencapai derajat disisi Allah adalah dengan ilmu pengetahuan. Baik ilmu syar’i yang mempelajari kaidah dan hukum-hukum dien ini. Maupun ilmu alam, tekhnologi atau ilmu kauniyah yang akan menambah keyakinan kita akan kebenaran Allah yang tergambar dari apa yang tercipta di alam semesta ini. Ilmu pengetahuan dan tekhnologi bukan suatu hal yang akan menjauhkan dari fitrah manusia untuk tunduk kepada Sang Pencipta. Tapi sebaliknya dengan terus menggali rahasia pengetahuan alam semesta ini akan lebih mendekatkan kepada-Nya.
Hari-hari ini merupakan sepuluh hari terakhir (‘asyrul awakhir) di buan Ramadhan. Banyak diriwayatkan di malam-malam ganjil sepuluh akhir bulan ini terdapat malam lailatul Qadar. Malam yang kemuliaannya sebanding dengan seribu bulan.
Suatu keistimewaan bagi ummat ini. Walau ummat Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam tidak ada yang memiliki umur sepanjang ummat sebelumnya. Contohnya nabi Nuh ‘alaihi salam yang masa dakwahnya saja 950 tahun atau seribu tahun kurang lima puluh (alfu sanah illa khamsin). Tapi ummat ini dikaruniai waktu waktu dan tempat tempat yang memiliki keistimewaan.
Tempat tempat yang memiliki keistimewaan dan kita dianjurkan untuk banyak menziarahinya antara lain Masjidil Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjid Al-Aqsa di Falestina.
Maka pembebasan Falestina dari hegemoni Zionis adalah masalah aqidah. Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama ummat islam, yang kemudian dipindahkan ke arah ka’bah di Makkah Al-Mukaramah.
Jangan sampai kita terpengaruh oleh kelicikan musuh-musuh Allah yang memalingkan kita darinya. Al-Aqsa bukan kubah Al-Shakra (Masjid berkubah kuning keemasan) yang sering di tampilkan oleh media.
Jangan pula terpengaruh oleh orang-orang yang mencoba mengkaburkan makna Al-Aqsa. Ini seperti apa yang di ceritakan Oleh Ust. Syuhada Bahri dalam satu ceramahnya: Pada suatu perayaan Isra Mi’raj. Panitia mengundang seorang doktor untuk menjadi ceramah. Dalam ceramahnya doktor ini, menyatakan bahwa arti Al-Aqsa adalah ‘tempat yang jauh’ di langit sana. Tentu saja ini suatu pengaburan yang menyesatkan.
Pada waktu itu ada seorang anak muda yang usil, bertanya: ”Pak!, dulu kan kiblat umat islam menghadap Al-Aqsa, sebelum dipindah menghadap ka’bah. Naah, apa rasulullah kalo shalat sambul tidur terlentang?”.
Kemudian keutamaan waktu-waktu tertentu yang diberikan kepada ummat ini diantaranya adalah malam lailatul Qadar.
Kita seharusnya tahu nilai yang terdapat pada malam ini. Dan harus mempunyai kemauan dan harapan untuk mendapatkannya.
Rasulullah pada akhir ramadhan ini melebihkan aktifitas ibadahnya dari hari-hari sebelumnya. Seperti tersirat dalam hadits yang diriwayatkan muslim:
”Kaana rosulillah salallahu ‘alaihi wasalam yajtahidu fi ‘asyril awakhiri maala yajtahidu fi goirihi”
Artinya: Kesungguhan rasulullah pada sepuluh hari terakhir melebihi kesungguhannya di hari-hari sebelumnya”
Dari ‘aisah yang diriwayatkan bukhari dan muslim:
”kaana rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam idza dakhala al’asyr syadda ma’zarahu wa ahya lailahu wa aiqadha ahlahu”
Artinya: ”memasuki hari sepuluh (terakhir), rasulullah mengencangkan ikat pinggangnya (tidak mendekati perempuan), menghidupkan malam-malamnya (dengan beribadah) dan membangunkan keluarganya”
Di sepuluh hari terakhir ini Rasulullah selalu beri’tikaf, bahkan pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf di dua puluh hari terakhir.
Dari ‘Aisyah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
”Kaana rosulullah salallahu ‘alaihi wasalam ya’takiful asyaral awakhir hatta tawafahullahu…”
Artinya: ”Rasulullah selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir sampai beliau wafat”
Itikaf adalah berdiam diri di masjid dengan maksud kethaatan dan beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala baik dalam tenggang waktu yang lama atau tidak.
I’tikaf bisa dilakukan disetiap masjid yang didirikan shalat jamaah didalamnya.
Sebagai manusia cerdas tentu kita tidak mau kehilangan kesempatan yang amat berharga ini.
Benar seperti apa yang ditulis seseorang di comment box salah satu situs jejaring: ”Ada gak sich dalilnya, kalo lailatul qadar itu ada di Mall Matahari, Ramayana atau Giant?!”
Lucu memang, tapi ya begitulah. Biasanya enggak siapa enggak siapa. Pada akhir bulan ini, bukannya semakin memperketat frekuensi ibadah. Malah sebaliknya kuat jalan-jalan ke mall, rajin lihat mode pakean terbaru, sibuk menyiapkan menu lebaran, janjian sama doi lah…
Seakan gembira akan ditinggal oleh bulan yang penuh rahmah, maghfirah dan’itqu munannar ini. Padahal belum tentu kita akan bertemu dengan ramadhan tahun depan.
Semoga kita bisa memuhasabah diri. Masih ada kesempatan kita untuk menutup kelalaian yang kita perbuat dalam mengisi bulan ini. Kita bukan kambing yang memulih rumput, menghamburkan waktu untuk kesiasiaan.
Tapi kita adalam manusia, muslim yang cerdas. Wallahu’alam bishawab.

Biar gak ada dompet, asal ada yang bayarin.

0

Ini ceritaku, rasanya sayang kalo terlewat begitu saja. Biarlah sobat menertawaiku, bilang kacian atau apalah.

“Tragedi” ini terjadi hari ahad lalu. ini hari senin tapi sudah masuk selasa, sebab jam sudah menunjukan pukul 00.35 :-) berarti sehari yang lalu. Yach, lumayan masih anget.

Hari ahad, hari libur bagi sebagaian makhluk di muka bumi ini he2. Tapi ada sebagian manusia yang menggunakan hari ini layaknya aktifitas hari-hari lain. Ya, diantaranya aku. Hari ahad merupakan salah satu dari tiga hari masuk kuliah kampus.

Ok, jadwal minggu ini kebetulan ada UAS makul Tafsir semester tujuh. Dosen pembimbingnya Prof. Drs. Dr. Ahmad Thib Raya, MA. Sebuah keberuntungan bagi kami, diberi kesempatan bertatap muka dengan dosen yang berkaliber nasional bahkan internasional. Sampai-sampai beberapa dosen berkata; “Kami hanya dapat diajar oleh beliau di jenjang s2 minimal, atau s3”.

Sebuah kebanggaan, walau parameter keilmuan tidak bisa diukur oleh fasilitas yang lux, tanpa diimbangi oleh faktor-faktor penunjang lain, yang utama adalah motivasi dan kesungguhan dari individu mahasiswa sendiri.

Masuk ke poin cerita. Keluar dari ruang ujian pukul sebelas limapuluh. Shalat dhuhur. Alarm perut sudah berbunyi. Koneksi tersambung ke otak dan dieksekusi oleh pikiran. “Apa yang ane santap?”.

Jalan ke kantin, bangku terisi penuh. Akhirnya jalan keluar depan gerbang kampus. Target biasanya batagor, tapi kali ini perut sedang ingin mencoba somay. Em, di bangku ternyata sudah ada dosen, Pak Rahmat Irfani. Dosen muda, berperawakan tinggi, putih, rambut cukur tipis dan berkacamata. Ku kira beliau pesan somay juga. Ternyata bukan, beliau memesan ketoprak.

Awalnya agak sungkan duduk bersebelahan. Tapi karena aspirasi perut yang terus meronta dan memberontak. Kuputuskan tegur sapa dan duduk didekat beliau.

Sambil menikmati siomay, obrolan ringan sampai berat pun mengalir beitu saja. Mulai dari topik kampus hari ini. Sampai cerita perjalana akademis beliau, yang sekarang sedang menyusun disertasi untuk mendapatkan gelar doktor.

Dengan berbekal ilmu quantum listening (he2). Aku mendengarkan dengan penuh antusias, dan sesekali bertanya. Sampai tak terasa somay yang aku santap, habis.

Kuletakan piring dibawah bangku. Tangan masuk kantong celana depan sebelah kiri. Kosong, gak ada uang. Kurogoh kantong celana sebelah kanan. Kosong. Dompet di kantong belakang. Juga kosong. Rupanya dompetku tertinggal di rumah. Alah mak…. Sejenak otak ku crash, not responding, bingung, mo bayar gimana neh.

Tapi aku menutupi kegalauan yang melanda. Dan terus melanjutkan obrolan dengan Pak Dosen. Ketoprak beliau belum habis. Aku mendahului menghabiskan somay, mungkin karena suka, atau mungkin juga kelaparan. Ah, up to you aja dech, mo kira apa.

Akhirnya piring ketoprak yang sedang disantap Pak Rahmat, habis. Beliau berdiri dan mendekati tukang somay, yang tadi aku nikmati. Beliau mengeluarkan uang dan bilang, bayar somay yang aku santap. Duh, malu ada, pengen ketawa juga ada. :-)

Moga kebaikannya  Allah balas dengan kebaikan, karena Allah sebaik-baik pemberi balasan.

 

Tangerang, 01:00 08/03/2012

900SubscribersSubscribe

Popular Posts

My Favorites

Kejujuran seorang bocah dan tobatnya kepala perampok

Alkisah, suatu ketika seorang Ibu mengutus putranya yang berumur tak lebih dari 13 tahun bersama kafilah dagang. Dari Makkah menuju Baghdad. Untuk bertemu dengan...