Jurnal-bebas

Home Jurnal-bebas

Biar gak ada dompet, asal ada yang bayarin.

0

Ini ceritaku, rasanya sayang kalo terlewat begitu saja. Biarlah sobat menertawaiku, bilang kacian atau apalah.

“Tragedi” ini terjadi hari ahad lalu. ini hari senin tapi sudah masuk selasa, sebab jam sudah menunjukan pukul 00.35 :-) berarti sehari yang lalu. Yach, lumayan masih anget.

Hari ahad, hari libur bagi sebagaian makhluk di muka bumi ini he2. Tapi ada sebagian manusia yang menggunakan hari ini layaknya aktifitas hari-hari lain. Ya, diantaranya aku. Hari ahad merupakan salah satu dari tiga hari masuk kuliah kampus.

Ok, jadwal minggu ini kebetulan ada UAS makul Tafsir semester tujuh. Dosen pembimbingnya Prof. Drs. Dr. Ahmad Thib Raya, MA. Sebuah keberuntungan bagi kami, diberi kesempatan bertatap muka dengan dosen yang berkaliber nasional bahkan internasional. Sampai-sampai beberapa dosen berkata; “Kami hanya dapat diajar oleh beliau di jenjang s2 minimal, atau s3”.

Sebuah kebanggaan, walau parameter keilmuan tidak bisa diukur oleh fasilitas yang lux, tanpa diimbangi oleh faktor-faktor penunjang lain, yang utama adalah motivasi dan kesungguhan dari individu mahasiswa sendiri.

Masuk ke poin cerita. Keluar dari ruang ujian pukul sebelas limapuluh. Shalat dhuhur. Alarm perut sudah berbunyi. Koneksi tersambung ke otak dan dieksekusi oleh pikiran. “Apa yang ane santap?”.

Jalan ke kantin, bangku terisi penuh. Akhirnya jalan keluar depan gerbang kampus. Target biasanya batagor, tapi kali ini perut sedang ingin mencoba somay. Em, di bangku ternyata sudah ada dosen, Pak Rahmat Irfani. Dosen muda, berperawakan tinggi, putih, rambut cukur tipis dan berkacamata. Ku kira beliau pesan somay juga. Ternyata bukan, beliau memesan ketoprak.

Awalnya agak sungkan duduk bersebelahan. Tapi karena aspirasi perut yang terus meronta dan memberontak. Kuputuskan tegur sapa dan duduk didekat beliau.

Sambil menikmati siomay, obrolan ringan sampai berat pun mengalir beitu saja. Mulai dari topik kampus hari ini. Sampai cerita perjalana akademis beliau, yang sekarang sedang menyusun disertasi untuk mendapatkan gelar doktor.

Dengan berbekal ilmu quantum listening (he2). Aku mendengarkan dengan penuh antusias, dan sesekali bertanya. Sampai tak terasa somay yang aku santap, habis.

Kuletakan piring dibawah bangku. Tangan masuk kantong celana depan sebelah kiri. Kosong, gak ada uang. Kurogoh kantong celana sebelah kanan. Kosong. Dompet di kantong belakang. Juga kosong. Rupanya dompetku tertinggal di rumah. Alah mak…. Sejenak otak ku crash, not responding, bingung, mo bayar gimana neh.

Tapi aku menutupi kegalauan yang melanda. Dan terus melanjutkan obrolan dengan Pak Dosen. Ketoprak beliau belum habis. Aku mendahului menghabiskan somay, mungkin karena suka, atau mungkin juga kelaparan. Ah, up to you aja dech, mo kira apa.

Akhirnya piring ketoprak yang sedang disantap Pak Rahmat, habis. Beliau berdiri dan mendekati tukang somay, yang tadi aku nikmati. Beliau mengeluarkan uang dan bilang, bayar somay yang aku santap. Duh, malu ada, pengen ketawa juga ada. :-)

Moga kebaikannya  Allah balas dengan kebaikan, karena Allah sebaik-baik pemberi balasan.

 

Tangerang, 01:00 08/03/2012

Bukan kambing…

0

Kalau saja seekor kambing, ditawari dua keranjang. Keranjang rumput dan keranjang emas. Kambing akan memilih keranjang rumput. Lain halnya dengan manusia yang mengetahui nilai dan harga emas, ia akan memilih keranjang emas. Kalaupun manusia, tapi ia tak kenal ‘peradaban’, tak kenal nilai emas. Yang ia tahu hanya beternak kambing, maka pilihannya akan sama dengan pilihan kambing. Ia akan memilih keranjang rumput.
Sebagai manusia yang dikaruniai akal, kita seharusnya pandai menggunakan potensi ini. Potensi berfikir, melihat dan mendengar.
Apalagi sebagai seorang muslim harus mampu memilah mana yang seharusnya dikerjakan dan mana yang mesti dijauhi.
Salah satu syarat kita unutuk mencapai derajat disisi Allah adalah dengan ilmu pengetahuan. Baik ilmu syar’i yang mempelajari kaidah dan hukum-hukum dien ini. Maupun ilmu alam, tekhnologi atau ilmu kauniyah yang akan menambah keyakinan kita akan kebenaran Allah yang tergambar dari apa yang tercipta di alam semesta ini. Ilmu pengetahuan dan tekhnologi bukan suatu hal yang akan menjauhkan dari fitrah manusia untuk tunduk kepada Sang Pencipta. Tapi sebaliknya dengan terus menggali rahasia pengetahuan alam semesta ini akan lebih mendekatkan kepada-Nya.
Hari-hari ini merupakan sepuluh hari terakhir (‘asyrul awakhir) di buan Ramadhan. Banyak diriwayatkan di malam-malam ganjil sepuluh akhir bulan ini terdapat malam lailatul Qadar. Malam yang kemuliaannya sebanding dengan seribu bulan.
Suatu keistimewaan bagi ummat ini. Walau ummat Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam tidak ada yang memiliki umur sepanjang ummat sebelumnya. Contohnya nabi Nuh ‘alaihi salam yang masa dakwahnya saja 950 tahun atau seribu tahun kurang lima puluh (alfu sanah illa khamsin). Tapi ummat ini dikaruniai waktu waktu dan tempat tempat yang memiliki keistimewaan.
Tempat tempat yang memiliki keistimewaan dan kita dianjurkan untuk banyak menziarahinya antara lain Masjidil Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjid Al-Aqsa di Falestina.
Maka pembebasan Falestina dari hegemoni Zionis adalah masalah aqidah. Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama ummat islam, yang kemudian dipindahkan ke arah ka’bah di Makkah Al-Mukaramah.
Jangan sampai kita terpengaruh oleh kelicikan musuh-musuh Allah yang memalingkan kita darinya. Al-Aqsa bukan kubah Al-Shakra (Masjid berkubah kuning keemasan) yang sering di tampilkan oleh media.
Jangan pula terpengaruh oleh orang-orang yang mencoba mengkaburkan makna Al-Aqsa. Ini seperti apa yang di ceritakan Oleh Ust. Syuhada Bahri dalam satu ceramahnya: Pada suatu perayaan Isra Mi’raj. Panitia mengundang seorang doktor untuk menjadi ceramah. Dalam ceramahnya doktor ini, menyatakan bahwa arti Al-Aqsa adalah ‘tempat yang jauh’ di langit sana. Tentu saja ini suatu pengaburan yang menyesatkan.
Pada waktu itu ada seorang anak muda yang usil, bertanya: ”Pak!, dulu kan kiblat umat islam menghadap Al-Aqsa, sebelum dipindah menghadap ka’bah. Naah, apa rasulullah kalo shalat sambul tidur terlentang?”.
Kemudian keutamaan waktu-waktu tertentu yang diberikan kepada ummat ini diantaranya adalah malam lailatul Qadar.
Kita seharusnya tahu nilai yang terdapat pada malam ini. Dan harus mempunyai kemauan dan harapan untuk mendapatkannya.
Rasulullah pada akhir ramadhan ini melebihkan aktifitas ibadahnya dari hari-hari sebelumnya. Seperti tersirat dalam hadits yang diriwayatkan muslim:
”Kaana rosulillah salallahu ‘alaihi wasalam yajtahidu fi ‘asyril awakhiri maala yajtahidu fi goirihi”
Artinya: Kesungguhan rasulullah pada sepuluh hari terakhir melebihi kesungguhannya di hari-hari sebelumnya”
Dari ‘aisah yang diriwayatkan bukhari dan muslim:
”kaana rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam idza dakhala al’asyr syadda ma’zarahu wa ahya lailahu wa aiqadha ahlahu”
Artinya: ”memasuki hari sepuluh (terakhir), rasulullah mengencangkan ikat pinggangnya (tidak mendekati perempuan), menghidupkan malam-malamnya (dengan beribadah) dan membangunkan keluarganya”
Di sepuluh hari terakhir ini Rasulullah selalu beri’tikaf, bahkan pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf di dua puluh hari terakhir.
Dari ‘Aisyah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
”Kaana rosulullah salallahu ‘alaihi wasalam ya’takiful asyaral awakhir hatta tawafahullahu…”
Artinya: ”Rasulullah selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir sampai beliau wafat”
Itikaf adalah berdiam diri di masjid dengan maksud kethaatan dan beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala baik dalam tenggang waktu yang lama atau tidak.
I’tikaf bisa dilakukan disetiap masjid yang didirikan shalat jamaah didalamnya.
Sebagai manusia cerdas tentu kita tidak mau kehilangan kesempatan yang amat berharga ini.
Benar seperti apa yang ditulis seseorang di comment box salah satu situs jejaring: ”Ada gak sich dalilnya, kalo lailatul qadar itu ada di Mall Matahari, Ramayana atau Giant?!”
Lucu memang, tapi ya begitulah. Biasanya enggak siapa enggak siapa. Pada akhir bulan ini, bukannya semakin memperketat frekuensi ibadah. Malah sebaliknya kuat jalan-jalan ke mall, rajin lihat mode pakean terbaru, sibuk menyiapkan menu lebaran, janjian sama doi lah…
Seakan gembira akan ditinggal oleh bulan yang penuh rahmah, maghfirah dan’itqu munannar ini. Padahal belum tentu kita akan bertemu dengan ramadhan tahun depan.
Semoga kita bisa memuhasabah diri. Masih ada kesempatan kita untuk menutup kelalaian yang kita perbuat dalam mengisi bulan ini. Kita bukan kambing yang memulih rumput, menghamburkan waktu untuk kesiasiaan.
Tapi kita adalam manusia, muslim yang cerdas. Wallahu’alam bishawab.

Antara Pisang dan Durian

0

Dalam satu kesempatan Pak Ahmad Ghazali (Seorang Praktisi Perencana Keuangan Muslim). Mengatakan, bahwa penyebab banyaknya terjadi kegagalan adalah karena selalu mencari pisang yang mempunyai rasa durian. What’s mean? Apa maksudnya?
Mari kita badingkan antara pisang dan durian. Ada beberapa perbedaan yang mencolok antara keduanya.


Pisang. Buah pisang gampang dicari di toko toko buah-buahan. Menanam pohonnya mudah. Dan berbuah juga mudah, terus menerus, tidak mengenal kata musim. Maka dengan beberapa kemudahan inilah buah pisang dihargai relatif murah.

Durian. Buah ini hanya dipanen pada musim musim tertentu. Menanam dan memeliharanya pun perlu keuletan. Banyak yang suka durian, karena cita-rasanya yang memang berbeda. Banyak yang tertipu ketika membeli, tapi demikian, tak akan kapok untuk mencoba membeli kembali. Nah, dengan sederet keistimewaan, kesulitan dan keunikan inilah, harga durian lebih tinggi melampaui harga pisang.
Jual pisang mudah, tapi harganya murah. Jual durian susah, dengan berbagai konsekuensinya. Tapi harganya pun juga lebih menguntungkan.
Konsekuensi hidup juga demikian. Untuk bisa sukses, manusia harus berusaha untuk mencapainya. Tak ada kata untuk berleha-leha.
Tak ada pisang yang memiliki cita rasa seperti durian. Dalam arti, orang yang tak pernah berusaha serius untuk mencapai cita-citanya. Hasilnya pun tak akan memuaskan.
Harga Kita adalah perlakuan kita terhadap diri kita masing masing. Jangan pernah mengharap kita akan dihargai oleh orang lain, jika kita sendiri pun tak pernah menghargai diri sendiri.
Orang lain menilai kita. Bukan karena apa yang kita ucapkan. Tetapi manusia hanya menilai dan melihat apa yang telah kita lakukan.
Jika anda ingin dihargai oleh teman. Berbuat baiklah dengan teman anda. Koreksi diri kita. Sudahkah kita menjadi sahabat yang baik?
Jika anda ingin mendapat pasangan yang baik. Berlaku baiklah pada diri sendiri. Karena orang yang baik, hanya akan mencari orang yang baik juga.
Jika anda mengharap curahan air satu ember. Anda harus mempersiapkan ember kosong untuk menampung air yang anda inginkan. Jika anda hanya mempunyai sebuah gelas. Akan sia-sia saja jika pun anda diberikan air seember. Karena anda tak akan mampu menampungnya. Apa lagi jika gelas anda sudah penuh. Air yang anda dapatkan tak akan masuk, akan luber berantakan begitu saja.
Jadi, ingin jadi apapun kita. Siapkan dari diri kita masing masing. Jika tidak siap, saya sarankan; jangan pernah berharap!.

900SubscribersSubscribe

Popular Posts

My Favorites

Membongkar Propaganda Anti-Tuhan dalam Film "X-Men First Class" (Bagian-1)

Oleh Musa Yusuf (YM/FB: yusuf_677@yahoo.com) Hingga kini masih banyak orang yang menganggap bahwa film hanyalah sebuah tontonan yang bersifat konsumsi untuk sekedar hiburan semata. Menganggap...

tuk Kekasihku…

Muhasabah Tahun Baru