Home Khutbah Khutbah Jumat: Hendak Kemana Kamu Pergi

Khutbah Jumat: Hendak Kemana Kamu Pergi

137
0

الحَمْدُ لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، فَمَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ،

فيـا عباد الله، أوصي نفسي وإيـاكم بتقوى الله وطاعته فقد فـاز المتقون.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Hadirin sidang jumat Rahimakumullah, al hamdulillah pada siang hari ini kita telah dapat memenuhi panggilan Allah untuk melaksanakan ibadah jumat.

Mudah-mudahan jum’at yang sedang kita laksanakan dapat menjadi pelebur dosa terhadap dosa di antara jum’at dan jum’at.

Sidang Jumat Rahimakumullah.

Ada satu pertanyaan dalam al-Qur’an yang sederhana sekali dan sangat menggugah yang memerlukan jawaban yang pasti, yaitu pertanyaan;

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

“Maka ke manakah kamu akan pergi?” (Q.S al-Takwir: 26)

Jika seseorang yang akan bepergian ditanya, hendak kemana kamu pergi? Tentu saja dari satu pertanyaan tersebut terus berkembang; dengan siapa kamu pergi? apa tujuan kamu pergi? Berapa lama kamu akan tinggal disana? Bawa apa untuk pergi kesana? Demikian juga pertanyaan Allah.

Pertanyaan Pertama: Hendak kemana kamu pergi?

Pertanyaan ini membutuhkan jawaban dan tidak ada jawaban yang tepat kecuali jawaban yang ada dalam al-Qur’an, yaitu:

إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا

“Hanya kepada Allah-lah tempat kembali kamu semuanya” (Q.S. al-Maidah: 48)

Ayat ini mengingatkan kita, bahwa kemana saja manusia pergi keluar kota atau ke luar negeri akhirnya manusia harus kembali menghadap kepada Rabb—nya di hari akhir nanti.

Dunia tidak bisa dijadikan tujuan hidup karena kenyataan tidak ada manusia yang merasa cukup dengan harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, ia senantiasa merasa kurang dan kirang dan merasa tidak puas dengan kenyataan yang ada. Sbetulnya dunia itu memang sarana hidup bukan tujuan hidup.

Seseorang yang disaat pagi-pagi sudah makan ia ditanya: “mengapa pagi—pagi sudah makan?” jawabannya: Biar Kuat dan punya tenaga. Kemudian ditanya lagi: Untuk apa kamu kuat?, Jawabannya: Supaya bisa bekerja. Kemudian ditanya lagi: untuk apa bekerja?, jawabannya: Supaya mendapatkan uang. Ditanya lagi: untuk apa uang?, Jawabannya: Supaya bisa makan, Ditanya lagi: Untuk apa makan?, jawabannya: Supaya Kuat dan punya tenaga, Kemudian ditanya lagi: Untuk apa kamu kuat?, Jawabannya: Supaya bisa bekerja.

Itulah gambaran dunia, ternyata seperti korsel, siklus mata rantai yang tidak ada ujungnya, tidak ada akhirnya. Karena itu, hendaklah manusia sadar bahwa harta dan kekayaan bukan tujuan hidup, tetapi sarana hidup. Akhir dari perjalana hidup manusia harus kembali menghadap Allah, berpulang keharibaannya.

Dunia tidak bisa dijadikan tujuan

اِعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.“ (Q.S. al-Hadid: 20)

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ

Rasulullah SAW bersabda: “kalaulah anak Adam memiliki dua lembah harta, pasti ia akan mencari lembah ketiga dan tidak akan memenuhi mulut Ibnu Adam kecuali tanah (maut).” (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: “يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا تَسْتَحْيُوا مِنَ اللهِ تَعَالَى؟ قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: تَجْمَعُونَ مَا لَا تَأْكُلُونَ، وَتُؤَمِّلُونَ مَا لَا تُدْرِكُونَ، وَتَبْنُونَ مَا لَا تَسْكُنُونَ

Rasulullah SAW bersabda: “Wahai manusia tidakkah kamu malu dengan Allah?” Mereka berkata: “Apa itu ya Rasulullah?” Rasul menjawab: “Mengumpulkan (harta) yang tidak akan engkau makan, mengangan-angan apa yang tidak akan terlaksana, dan membangun apa yang engkau tidak akan tempati.” (H,R. al-Baihaqi)

Tujuan akhir adalah akhirat:

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (Q.S. al-Baqarah: 281)

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (Q.S. al-Baqarah: 28)

PERTANYAAN KEDUA:

Dengan Siapa Kamu Akan Pergi ?

Jawaban yang tepat adalah sebagai berikut;

يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Akan mengantar mayit tiga kelompok; keluarganya, hartanya dan amalnya. Tetapi yang dua kembali lagi dan tinggal yang satu. Keluarga dan hartanya akan kembali lagi dan tinggal amalnya (yang terus menyrtai mayit).” (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut menggugah kita, bahwa harta yang kita kumpulkan sejak lama dengan penuh keluh kesah dan kerja keras akhirnya ditinggalkan dan tidak ada yang mengikutinya kecuali kafan saja.

Demikian juga keluarga, anak, isteri yang ia cintai akhirnya meninggalkan juga dan tinggal amalnya yang terus menyertai dan mendampinginya, baik itu amal shalehnya atau amal jahatnya.

Seharusnya manusi mempersiapkan diri untuk menghadapi kematiannya dengan memperbanyak amal shalehnya karena amal shalehnyalah yang akan menyelamatkan dirinya.

PERTANYAAN KETIGA:

Bekal apa yang telah kamu persiapkan ?

Tentu saja harus membawa bekal yang cukup, karena kekurangan bekal dalam suatu perjalanan akan menderita dan belum tentu ada yang membantunya.

Bekal untuk menuju hari akhirat yang tiada ujungnya tentu saja bekal yang terbaik adalah bekal yang dipesankan Allah dalam firmannya;

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa” (Q.S. al-baqarah: 197)

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Q.S. al-Kahfi: 110)

Ayat pertama menunjukkan bahwa bekal ketaqwaanlah yang paling utama untuk dijadikan bekal untuk menghadpi kehidupan yang abadi. Ayat kedua menunjukkan bahwa siapa yang akan menghadap Rabbnya, persiapkanlah amal shaleh dan jangan sekali-kali menyukutukan Allah.

PERTANYAAN KEEMPAT

Berapa lama Kamu Akan Tinggal di Sana ?

Perjalanan manusi di dunia pasti ada batasnya, apakah satu minggu, satu bulan atau satu tahun. Demikian juga perjalanan hidupnya pasti berakhir dengan kematian, mereka yang berumur panjang paling sampai 100 tahun, akhirnya mati juga. Sedangkan kehidupan di hari akhir nanti kekal dan abadi tiada ujungnya. Orang yang meraih kebahagiaan, mereka akan kekal dan abadi di surga dengan segala kenikmatannya, sementara orang yang kafir akan kekal di neraka dengan segala penderitaannya.

Hukuman penjara di dunia paling lama 15-20 tahun atau penjara seumur hidup, sementara di neraka bukan 1.000 tahun atau satu juta tahun, tetapi abadi tiada ujungnya.

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. al-A’raf: 36)

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (Q.S. al-A’raf: 42)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah akan kekal abadi di neraka dan mereka yang beriman dan beramal shaleh akan kekal abadi di surga.

PERTANYAAN KELIMA:

Adakah orang yang dapat diminta pertolongan di sana ?

Jawabnya adalah firman AllH SWT:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. (Q.S. ‘Abasa: 34-37)

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Q.S. al-Syu’ara: 88-89)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa harta dan anak tidak bisa diandalkan kecuali hati yang bersih dalam pengabdian diri kepada Allah. Bapak, Ibu, anak dan saudara mempunyai kesibukan masing-masing untuk mempertanggungjawabkan dirinya kepada Allah.

PERTANYAAN KEENAM:

Sudahkah Kamu ikhlas dalam beramal ?

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (Q.S. al-Bayyinah: 5)

قال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya (nilai) amal itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang itu tergantung apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang niat hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh, atau karena istri yang ia nikahi, maka nilai hijrahnya itu tergantung ke-pada apa yang ia niat berhijrah.” (H,R. al-Bukhari dan Muslim)

قَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْصِنِي، قَالَ: «أَخْلِصْ دِينَكَ يَكْفِكَ الْعَمَلُ الْقَلِيلُ»

Mu’adz bin Jabal berkata: “Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat”. Nabi SAW menjawab: “Berilkhlaslah dalam beragama, maka cukup bagimu walau amal yang sedikit.” (H.R. al-Hakim)

Dari Abu Hurairah ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

إنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِىَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعْمَتَهُ، فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا ؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ: قَالَ كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ في النَّارِ.

Sesungguhnya manusia pertama yang dihakimi pada hari kiamat adalah orang yang mati di medan perang, ia dihadirkan lalu diperkenalkan dengan nikmat-nikmat-Nya dan ia mengenalnya. Allah bertanya: Maka apa yang sudah kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu? Ia menjawab: Saya berperang di jalan-Mu hingga saya mati syahid. Allah berfirman: Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang agar dikatak, si pemberani! Dan julukan itu telah kamu dapatkan. Kemudian diperintahkan terhadapnya, lalu mukanya diseret hingga ia dilemparkan ke dalam neraka.

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ، وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأتِىَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا . قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا ؟ قَالَ : تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ، وَقَرَأتُ فِيكَ الْقُرآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتَهُ، وَقَرَأتَ الْقُرآنَ لِيُقَالَ : هُوَ قَارِىءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ، فَسُحِبَ عَلى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ في النَّارِ.

Dan seorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an, ia dihadirkan lalu diperkenalkan dengan nikmat-nikmat-Nya dan ia mengenalnya. Allah bertanya: Maka apa yang sudah kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu? Ia menjawab: Saya belajar ilmu dan mengajarkannya serta saya membaca Al Qur’an di jalan-Mu. Allah berfirman: Kamu dusta, sesungguhnya kamu belajar agar dikatakan,alim!, dan kamu membaca Al Qur’an agar dijuluki Qari! dan julukan itu telah kamu terima. Kemudian diperintahkan terhadapnya, lalu mukanya diseret hingga ia dilemparkan ke dalam neraka.

وَرَجُلٌ وَسَّعَ الله عَلَيْهِ، وَأعْطَاهُ مِنْ أصْنَافِ المَالِ، فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ، فَعَرَفَهَا . قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا ؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبيلٍ تُحِبُّ أنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ . قَالَ: كَذَبْتَ، ولكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِىَ فِي النَّارِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dan seorang yang dilapangkan rezekinya oleh Allah dan dianugerahi bermacam-macam harta, ia dihadirkan lalu diperkenalkan dengan nikmat-nikmat-Nya dan ia mengenalnya. Allah bertanya: Maka apa yang sudah kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?. Ia menjawab: Saya tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau sukai, di sanalah harta itu diinfakkan, saya berinfak di dalamnya untuk-Mu. Allah berfirman: Kamu dusta, sesungguhnya kamu melakukan hal itu agar dikatakan, dermawan! Dan itu sudah dikatakan. Kemudian diperintahkan terhadapnya, lalu mukanya diseret hingga ia dilemparkan ke dalam neraka. (HR Muslim)

PERTANYAAN KETUJUH:

Sudahkah amal anda cocok dengan petunjuk Alquran dan Sunnah ?

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beramal yang tidak ada perintah kami, maka amalnya pasti ditolak.” (H.R. Muslim)

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ، مَنْ مَرَّ عَلَيَّ شَرِبَ، وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا، لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ» … إِنَّهُمْ مِنِّي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي “

Dari Sahl bin Sa’ad r.a, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Aku mendahului di sebuah telaga, siapa yang lewat pasti minum, dan siapa yang minum pasti tidak akan haus selama-lamanya. Sungguh akan datang padaku satu kaum yang aku kenal mereka dan mereka kenal aku, kemudian dihalangi antara aku dengan mereka, … (maka aku berkata:) “Ya Allah, mereka adalah ummatku –kemudian dikatakan- (hai Muhammad) engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan setelahmu.” Aku (Nabi) berkata: “Jauh! Jauhlah bagi orang yang mengubah agama setelahku.” (H.R. al-Bukhari)

وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا وَصَوَابًا، وَالْخَالِصُ إِذَا كَانَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالصَّوَابُ إِذَا كَانَ عَلَى السُّنَّةِ.

Menurut Fudhail bin ‘Iyadh: “Sesungguhnya amal jika ikhlas tetapi tidak benar (sesuai dengan sunnah) maka tidak akan diterima, dan jika benar tetapi tidak ikhlas juga tidak akan diterima kecuali jika ia benar dan ikhlas. Kriteria ikhlas ialah yang semata karena Allah, sedangkan yang benar ialah yang cocok dengan sunnah.”

Demikianlah khutbah yang dapat saya sampaikan, mudah-mudahan Allah membukakan pintu hati kita untuk mentaati segala perintah-nya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khotbah kedua

الحمد لله و كفى, والصلاة و السلام على النبي المصطفى, و على اله وصحبه ومن سار على نهجه فقد اكتفى. أما بعد

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ عَلَى النَّبِيِّ المُصْطَفَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)). اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ , كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آل إبْرَاهِيمَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ . اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ , كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آل إبْرَاهِيمَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنِ اتَّبِعُهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ،  قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عباد الله! ﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴾. [ سورة النحل الآية : 90 ] اقم الصلاة!

Download Khutbah Jumat dalam Format Word:

DOWNLOAD

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.