Jurnal-bebas

Home Jurnal-bebas Page 9

Peluang

0

Orang yang pandai menjaring peluang adalah orang yang beruntung. Peluang datang hanya sekali. Seperti jatah hidup kita di dunia ini. Hidup kita hanya sekali. Tak ada istilah reinkarnasi, mati kemudian hidup kembali. Tetapi mati kemudian menuju alam lain yang abadi.
Jika kita memanfaatkan peluang hidup kita yang hanya sekali ini dengan berbuat baik, mengerjakan amal sholeh sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah subhanahuwata’ala, maka dengan rahmah-Nya jannah akan menjadi imbalan, begitu juga sebaliknya.
Hm kenapa kita mengerjakan amal sholeh harus sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Karena memang dalam beribadah kita tidak serta merta berbuat seenak hati. Ada syarat yang perlu kita penuhi.
Yang pertama ketika berbuat harus didasari ke-ikhlasan. Ikhlas artinya khulush, bersih, suci segala apa yang kita kerjakan hanya menginginkan keridha’an Allah subhanahu wata’ala, tak ada embel-embel yang lainnya. Bukan karena ingin dipuji oleh teman, bukan karena ingin dilihat oleh calon mertua (he2) dll.
Keduanya, harus ittiba rasul, ibadah yang kita kerjakan harus sesuai dengan tuntunan rasulullah, tidak menambah-nambah atau mengurangi. Beribadah sesuai dengan sunnah-Nya. Kalau pun kita puasa hanya karena Allah, tapi berpuasa sebulan penuh tanpa sahur tanpa ifthar, ini tidak ada tuntunan dari rosul, maka puasanya batal.
Ibarat ada sebuah kebun yang dimiliki oleh seorang saudagar. Kita sebagai kulinya. Maka apa yang kita kerjakan harus sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh sang tuan kebun tadi, jika kita ingin mendapatkan imbalan darinya. Mari kita bayangkan jika kita beberja disana tanpa menghiraukan ketentuan yang ada, apakah kira-kira kita akan mendapatkan imbalan dari sang empu kebun? Tentu tidak, malah mungkin diusir, tidak dipekerjakan lagi.
Analogi ini bertentangan dengan faham pluralisme yang menyatakan bahwa semua pemeluk agama yang taat pada aturan agamanya masing masing pada akhirnya akan diterima oleh Tuhan yang satu surga yang satu. Faham ini diusung oleh orang-orang yang ingin meliberalkan islam seperti orang keristen meliberalkan agamanya. Padahal perbedaan antara Islam dengan kristen sangat kontras. Jika agama kristen diliberalkan oleh penganutnya, hal itu merupakan suatu kewajaran, karena memang agama ini mempunyai sejarah kelam bagi pemeluknya. Sehingga perlu dikritisi dan disesuaikan dengan Zaman.
Cerdiklah dalam memanfaatkan peluang karena peluang tak datang untuk kedua kalinya.
Seorang sahabat bercerita. Ada seorang pegolf yang memiliki kekurangan, cacat fisik yaitu buta. Dia ditantang oleh seorang pegolf kawakan yang memiliki kesempurnaan fisik seperti dirinya. Dia berjanji akan memberi imbalan yang besar jika pegolf yang buta tadi mau meladeni tantangannya.
Ini merupakan peluang, peluang bagi pegolf buta untuk mendapat imbalan yang besar. Tapi bagaimana mengalahkan penantangnya, sedangkan ia memiliki kekurangan fisik, buta mata? Ini merupakan titik permasalahan. Apakah akan menyerah begitu saja? Oh No! kesempatan ini hanya sekali. Lantas?
Dengan kecerdikannya pegolf buta, menerima tantangan dengan satu syarat. Pertandingan dilaksanakan dimalam hari tanpa lampu penerang. Dengan menghafal medan ia mampu bermain dengan baik, dan akhirnya memperoleh kemenangan. Berbeda dengan penantangnya yang tak bisa bermain dengan baik karena gelap.
Konklusi dari kisah ini, bahwa setiap peluang yang memiliki tantangan pasti akan ditemukan jalan keluar.
Dalam hidup kita yang hanya sekali ini akan ditemukan berbagai halang rintang, ujian dan cobaan. Nah bagai mana cara menghadapinya memerlukan kejelian dan kejernihan berfikir untuk mendapatkan jalan keluar yang baik. Jangan mengambil jalan keluar yang akan meninggalkan efek samping yang fatal bagi kelangsungan hidup dialam keabadian kelak.
*******

Asbun

0

lukman-elhakim.com: Asbun, alias asal bunyi. Kalo terompet bunyi, apapun bunyinya, menjadi tanda keberhasilan pembuat terompet.

Kenalpot bunyi, berarti motor atau mobilnya masih bisa hidup. Bayi yang baru lahir kemudian bunyi (baca: nangis), suatu kebahagiaan bagi orang taunya.

Tapi kalau manusia dewasa yang mempunyai kebiasaan asal bunyi alias asbun. Akan jadi penyakit dan cacat yang memalukan. memalukan bagi orang tua, mertua, isteri, suami, anak, engkong, tante, dan seluruh rt, kelurahan, juga negara Indonesia yang kita diami ini he2. Tapi anehnya, orang yang asbun, jarang, bahkan tidak akan merasa malu. Sebab itu sudah penyakit bagi dirinya. Seolah buang angin dengan wangi busuk (wangi busuk ya?). Nyamuk bisa mati, cicak gemetar, manusia yang ada disampingnya bisa pingsan. Tapi dia yang buang angin, tersenyum manis, semanis kopi gak pake gula (pait jadinya).

Ya, begitulah asbun. Banyak sekali penyebabnya. Entah karena ingin dipandang sebagai seorang pakar yang kompeten dibidangnya. Sehingga sangat layak menjadi idaman para calon mertua he2.

Asbun memang bisa menjadi wasilah penghidupan (he2). Anda yang pintar memuji, layak mendapat imbalan. Kasus ini biasa dikenal dengan isitilah ABS atau AIS. Asal Bapak Senang, atau Asal Ibu Senang. Dan memang efektif. Semakin anda pandai melobi manusia-manusia serakah pujian, makan akan terbuka pintu untuk mempertebal dompet anda.

Dampak dari merambahnya situs jejaring pun turut menyuburkan penyakit ini (ma..aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaf he2). Bagi yang merasa sich. Kadang ke kamar mandi, pusing kepala dikit, digigit nyamuk, keseleo, bokek (malu-maluin kalo ini). Dipajang di wall status Facebook. Apakah ini juga termasuk kategori asbun?. Tapi biasanya gejala ini sering diidentifikasi sebagai penyakit lebay bin lebong he2. Up to you dah.

Anda akan banyak menemui si Asbun ini. Sperti halnya saya baru menemukannya ketika membaca tulisan: Dalam Pendidikan Karakter, Berzina Belum Tentu Dosa di Eramuslim. Ada seseorang yang dengan lantang berteriak:

Pertanyaannya, kenapa pendidikan karakter ala Barat bisa membuat masyarakat di Barat itu on time, bersih, disiplin, dll ; sementara Indonesia yang mayoritas muslim gagal membentuk masyarakat yang on time, bersih, disiplin, dll ?
Apakah sistem pendidikan kita (yang katanya Islami itu) tidak memandang on time, bersih, dan disiplin itu sebagai hal yang penting ? Atau cara mendidiknya yang salah ?

Em, Entah dari sudut pandang mana berfikirnya. Mestinya pembaca Eramuslim yang nota bene menyarakan Islam dengan pemahaman yang cukup baik. Pola pikirnya telah terbina. But, ya itulah. Fakta memang membuktikan. Kata-kata Muhammad Abduh: Al-islamu mahjubun bil muslimin masih nyata sampai saat ini. Sampai akhir ketika Isa Almasih di akhir jaman saja sepertinya akan berakhir.

Kita sering keliru, mana ajaran islam yang benar. Dengan mana aplikasi muslim yang kadang keliru. Contohnya tentang kebersihan. Islam telah mengajarkan pentingnya kebersihan. Detail. Mulai dari mandi, berwudlu, macam-macam najis, sampai air yagn suci dan tidak suci ada perinciannya. Mana ada di ajaran lain yang menjelaskan seperti ini?

Hanya aplikasinya memang masih kadang menyimpang. Maka tidak heran jika seorang alim berkata. Aku menemukan ajaran Islam di singapura, tapi tidak menemukan muslim disana. Artinya, ajaran kebersihan seperti diajarkan oleh Islam, telah dilaksanakan di Singapura. Walau yang melaksanakannya bukan musliam.

Kemudian. Aku menemukan muslim di Indonesia, tapi tidak menemukan ajarannya disini. Kaum muslimin di Indonesia banyak, tapi masih sedikit yang menjalankan Islam sesuai dengan ajarannya secara menyeluruh :-)

Demikian juga dengan asbun. Asal bunyi dalam Islam juga tidak luput dari pembahasan. Seperti: Falyaqul Khairan, auliyasmut. (berkatalah yang baik, atau diam), Al-lisanu kassaif, fain taqtaha, yaqtaka (lidah ibarat pedang, jika kamu tidak menggunakannya, dia akan menebasmu).

Em, termasuk asbun kah kita?

 

Tangerang, 09-03-2012

900SubscribersSubscribe

Popular Posts

My Favorites

Proteksi artikel dari copy paste dengan wordpress plugin

Tindakan copy paste tanpa ijin, tanpa mencantumkan sumber aseli penulis. Tentu bukan perbuatan terpuji, dan tidak mendidik. Merugikan penulis dalam arti yang sesungguhnya. Walau...

Ikhlas bukan tanpa pamrih

Nulis di Blog? Guampaang…