Facebook = PeDeKaTe. ?…

faceebookKalau dulu biasanya di Majalah remaja, atau remaja agak gede, pun juga, gede beneran. Ada rubrik sahabat pena, kita bisa mengirim surat pada teman yang photo dan alamatnya dimuat di lembar majalah atau LKS. Dari hobby ini, berlanjut biasanya menjadi kolektor prangko. Mengasyikkan, kita bisa memiliki teman yang jauh. Seorang yang berada di Jawa bisa memiliki teman di Sumatera, Kalimantan atau Maluku. bisa juga memilih laki-laki atau perempuan. Sebaya apa enggak.
Tapi itu dulu. Sekarang kemungkinan ‘spesies’ ini sudah punah. Seiring berkembangnya tekhnologi komunikasi. Internet bukan barang langka lagi, semua orang bisa mengakses Makhluk yang dulu terbilang aneh ini. Kalau tidak memiliki koneksi pribadi, minimal bisa nongkrong di Warung Internet yang sekarang sudah banyak menjamur.
Akhir akhir ini berkembang jejaringan sosial dimulai dari Yuwie, twitter,friendster de el el. Dan yang sedang naik daun sekarang ini yaitu facebook. Dari mulai anak SD sampai pegawai kantor, keranjingan ‘virus’ ini. Seiring dengan perkembangan tekhnologi juga, jejaringan sosial ini bisa diakses lewat HP, baik yang memang telah terintegrasi, maupun dengan menginstall software baru contohnya Continue reading “Facebook = PeDeKaTe. ?…”

Gak usah Dongkol kalee (lembar satu)

Alat dan fasilitas tergantung kepada penggunaan si empunya.
Mata, pendengaran, akal dan hati merupakan alat untuk mengenal ke Maha Besaran Sang Pencipta.
bukan untuk sombong karenanya. Semuanya akan ditanya pertanggungjawabannya.
Apa yang kau lihat oleh matamu. Apa yang telingamu simak. Ke mana kau langkahkan kakimu. Diwaktu mulut tak lagi dapat mengelak.
Ketika Allah mengabarkan kepada para malaikat, akan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Para malaikat berkata:
‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan-Mu?’
Dialog ini digambarkan Al-Qur’an pada surah Al-Baqarah ayat 30.
Kodrat manusia tercipta memiliki nafsu, yang menurut Ulama Tadzkiyyah terbagi tiga. Nafsu Muthmainnah yang memotivasi untuk berbuat kebaikan, dengan selalu mengingat dan merindukan-Nya. Al-Fajr: 27. Dipengaruhi oleh fitrah kebaikan dari Tuhan.
Yang kedua Nafsu amarotun bis suui, yang selalu mendorong untuk berbuat kejelekan. Yunus: 53. Dipengaruhi oleh syaithon, yang selalu mempropokasi untuk berpaling dari jalan kebaikan.
Yang ketiga nafsu yang yang tidak memiliki pengaruh antara keduanya (laa tatsbutu ‘ala haal).
Kita tidak seperti orang yang berfaham bahwa semua gerak atas kehendak Tuhan, manusia tak memiliki kehendak. Maka ketika mencuri itu karena kehendak tuhan. Ketika minum, bukan kehendak manusia, tapi mutlak kehendak tuhan. Sehingga kelompok ini menyatakan bahwa Fir’aun adalah seorang mu’min, dengan alasan bahwa ketakaburannya atas kehendak Tuhan, bukan karena kehendak Fir’aun sendiri.
Padahal yang harus kita Imani adalah, kita memiliki Irodah/kemauan, ‘azzam/kehendak, kemudian pada pelaksanaannya ada kehendak lain dari tuhan. Misalkan karena ngantuk, kita berencana tidur sore jam sembilan malam. Ini kehendak kita. Tapi tanpa kita prediksi, tepat pada jam sembilan malam, ada teman kita dari jauh yang datang bertamu. Ini kehendak Tuhan-nya.
Karena kita haus, kita berkeinginan untuk minum. Maka ketika terlaksana minum. Ada kehendak tuhan pada terlaksananya. Tapi misalkan ketika gelas sudah menempel ke bibir, tiba tiba kursi yang kita duduki ada yang menyenggol, air digelas pun tumpah berhamburan. Ini kehendak Tuhan.
Maka dengan keyakinan ini, dalam setiap langkah, ketika mengerjakan sesuatu. Kita akan bekerja dengan optimal, tapi hasilnya qana’ah (ridha dengan ketetapan) kepada Allah. Bukan qana’ah tapi tanpa memiliki usaha. Ingat, do’a, usaha, kemudian tawakkal kepada-Nya.
Jangan pula kita seperti orang yang berkeyakinan bahwa segala gerak manusia mutlak atas kehendak pribadi tanpa campur tangan Tuhan. Seperti pemahaman diatas, faham ini akan mendorong manusia untuk berbuat sekehendak diri. Akan tercipta hukum rimba, yang kuat akan semakin kuat, yang lemah terus tertindas.
Ketika kita berfikir ada manusia yang akhir hidupnya masuk syurga. Dan disatu pihak ada yang su’ul khatimah masuk neraka. Apakah Allah tidak adil dalam berkehendak?
Ada seorang Ustadz yang menjawab masalah ini dengan menganalogikannya sebuah kisah.
Pada suatu kelas di sebuah sekolah. Terdiri dari tigapuluh orang siswa, dengan seorang guru kelas yang selalu mendampingi dan mengawasi proses belajar mereka.
Setelah beberapa lama bersama mereka, sang guru dapat mengkategorikan menjadi tiga kelompok dari jumlah keseluruhan anak asuhnya.
10 murid pertama adalah kelompok murid yang selalu taat dengan disiplin dan peraturan sekolah, selalu datang tepat waktu, selalu mengerjakan tugas tugas, selalu memperhatikan dan aktif ketika di kelas. Kelompok murid yang memang cocok diacungkan jempol.
10 kelompok kedua. adalah kelompok yang tidak serajin kelompok pertama. Ketika ada tugas mereka mengerjakan, kadang kadang saja lalai. Taat aturan sekolah tapi ada waktunya melanggar. Aktif, memperhatikan keterangan guru dikelas, tapi ada kalanya ngantuk atau tertidur. Tapi kelompok ini masih tergolong bisa menjawab soal soal ujian bulanan yang selalu diujikan oleh guru mereka.
10 kelompok ketiga adalah kelompok yang bisa dibiang na’as. Kelompok ini walaupun memiliki pakaian yang cukup baik, tapi terkesan acak acakan. Begitupun ketaatannya terhadap peraturan sekolah, jajanan mereka sehari hari melanggar disiplin. Ketika dikelas, sudah menjadi ritual sehari hari, sejak sepuluh menit pertama dimulai pelajaran, acaranya menggambar peta, atau mengukur meja sambil mendengkur. Nyontek sudah menjadi hobbi. Sangat jarang mengerjakan tugas-tugas sekolah. Nilai rata-rata ujian bulanan dibawah standar. Kelompok ini merupakan kelompok yang harus diberangus, apalagi jika terjadi di negara Indonesia. (mmem).
Akhirnya ujian akhirpun datang. Pak Guru yang telah sekian lama mendampingi dan memperhatikan kelas ini memberikan pengumuman yang mengejutkan. Bahwa:
Kelompok yang akan mengikuti ujian hanya kelompok kedua.
Kelompok pertama dinyatakan lulus tanpa ujian.
Dan kelompok ketiga. Dinyatakan tidak lulus dan tidak berhak mengikuti ujian.
Hmm… kelompok ketiga marah, dongkol. Dan mengajukan keberatan kepada Pak Kepala sekolah. Akhirnya kepala sekolah mengabulkan permintaan kelompok ketiga ini, supaya adil semua tidak dibedakan, semua mengikuti Ujian.
Pada hari diumumkan nilai hasil ujian, terbukti suatu kenyataan. kelompok pertama dan kedua dinyatakan lulus oleh tim penguji. Sedangkan kelompok ketiga dinyatakan tidak lulus.
Begitulah prediksi Sang guru tidak meleseset, karena selama ini ia telah mengetahui perilaku keseharian anak didiknya.
Bersambung….

Peluang

Orang yang pandai menjaring peluang adalah orang yang beruntung. Peluang datang hanya sekali. Seperti jatah hidup kita di dunia ini. Hidup kita hanya sekali. Tak ada istilah reinkarnasi, mati kemudian hidup kembali. Tetapi mati kemudian menuju alam lain yang abadi.
Jika kita memanfaatkan peluang hidup kita yang hanya sekali ini dengan berbuat baik, mengerjakan amal sholeh sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah subhanahuwata’ala, maka dengan rahmah-Nya jannah akan menjadi imbalan, begitu juga sebaliknya.
Hm kenapa kita mengerjakan amal sholeh harus sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Karena memang dalam beribadah kita tidak serta merta berbuat seenak hati. Ada syarat yang perlu kita penuhi.
Yang pertama ketika berbuat harus didasari ke-ikhlasan. Ikhlas artinya khulush, bersih, suci segala apa yang kita kerjakan hanya menginginkan keridha’an Allah subhanahu wata’ala, tak ada embel-embel yang lainnya. Bukan karena ingin dipuji oleh teman, bukan karena ingin dilihat oleh calon mertua (he2) dll.
Keduanya, harus ittiba rasul, ibadah yang kita kerjakan harus sesuai dengan tuntunan rasulullah, tidak menambah-nambah atau mengurangi. Beribadah sesuai dengan sunnah-Nya. Kalau pun kita puasa hanya karena Allah, tapi berpuasa sebulan penuh tanpa sahur tanpa ifthar, ini tidak ada tuntunan dari rosul, maka puasanya batal.
Ibarat ada sebuah kebun yang dimiliki oleh seorang saudagar. Kita sebagai kulinya. Maka apa yang kita kerjakan harus sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh sang tuan kebun tadi, jika kita ingin mendapatkan imbalan darinya. Mari kita bayangkan jika kita beberja disana tanpa menghiraukan ketentuan yang ada, apakah kira-kira kita akan mendapatkan imbalan dari sang empu kebun? Tentu tidak, malah mungkin diusir, tidak dipekerjakan lagi.
Analogi ini bertentangan dengan faham pluralisme yang menyatakan bahwa semua pemeluk agama yang taat pada aturan agamanya masing masing pada akhirnya akan diterima oleh Tuhan yang satu surga yang satu. Faham ini diusung oleh orang-orang yang ingin meliberalkan islam seperti orang keristen meliberalkan agamanya. Padahal perbedaan antara Islam dengan kristen sangat kontras. Jika agama kristen diliberalkan oleh penganutnya, hal itu merupakan suatu kewajaran, karena memang agama ini mempunyai sejarah kelam bagi pemeluknya. Sehingga perlu dikritisi dan disesuaikan dengan Zaman.
Cerdiklah dalam memanfaatkan peluang karena peluang tak datang untuk kedua kalinya.
Seorang sahabat bercerita. Ada seorang pegolf yang memiliki kekurangan, cacat fisik yaitu buta. Dia ditantang oleh seorang pegolf kawakan yang memiliki kesempurnaan fisik seperti dirinya. Dia berjanji akan memberi imbalan yang besar jika pegolf yang buta tadi mau meladeni tantangannya.
Ini merupakan peluang, peluang bagi pegolf buta untuk mendapat imbalan yang besar. Tapi bagaimana mengalahkan penantangnya, sedangkan ia memiliki kekurangan fisik, buta mata? Ini merupakan titik permasalahan. Apakah akan menyerah begitu saja? Oh No! kesempatan ini hanya sekali. Lantas?
Dengan kecerdikannya pegolf buta, menerima tantangan dengan satu syarat. Pertandingan dilaksanakan dimalam hari tanpa lampu penerang. Dengan menghafal medan ia mampu bermain dengan baik, dan akhirnya memperoleh kemenangan. Berbeda dengan penantangnya yang tak bisa bermain dengan baik karena gelap.
Konklusi dari kisah ini, bahwa setiap peluang yang memiliki tantangan pasti akan ditemukan jalan keluar.
Dalam hidup kita yang hanya sekali ini akan ditemukan berbagai halang rintang, ujian dan cobaan. Nah bagai mana cara menghadapinya memerlukan kejelian dan kejernihan berfikir untuk mendapatkan jalan keluar yang baik. Jangan mengambil jalan keluar yang akan meninggalkan efek samping yang fatal bagi kelangsungan hidup dialam keabadian kelak.
*******