Aku akan memerangi orang yang menyakiti kekasihku…

Fakta dianggap dongeng, dan dongeng dianggap nyata. Begitulah yang terjadi di dunia yang sekarang rusak oleh fitnah akhir zaman.

Syeikh Muayyad, mungkin (bukan mungkin, tapi nyata!) oleh sebagian orang di cap sebagai pembuat onar, teroris. Karena memang media, khususnya media Indonesia mengatakan demikian!.

Saya sangat geram. Ketika sebuah media menyebutnya “teroris itu dibebaskan oleh AS”. Lalu ada komentar pembaca yang menulis; “Sudah bau tanah, kok masih belum sadar juga”.

Hai kalian yang telah terbodohi! terbohongi!. Apakah anda tahu siapakah Syeikh Muayyadh?. Beliau adalah seorang lelaki shalih. Yang berusaha membela Islam!. Menggalang dana untuk saudara saudaranya yang tertindas, terkurung oleh keangkuhan ‘kaum kera’ (Yahudi). Anda tentu tidak tahu, bahwa mereka adalah saudara Anda.

Satu berita yang mungkin media penjilat AS, risih memuatnya, padahal ini nyata. Syeikh Muayyad telah lama menjadi incaran AS. Tetapi mereka tak leluasa menangkapnya di negeri asal Yaman. Skenario pun dijalankan. Mereka mengupah seorang intel Yaman untuk membujuknya berobat ke Ordon. Syeikh Muayyad, menurutinya. Sesampainya disana. Beiliau digelandang dan dimasukkan penjara. Dalam keadaan sakit!.

Ternyata AS yang picik, telah membohongi pembujuk Syeik Muayyad. AS tidak memberikan upah sebagaimana telah dijanjikan.

Si Pembujuk yang mendapat tekanan dari berbagai pihak, stress. Sebagai protes, akhirnya ia membakar diri di depan kedutaan AS Yaman. Ia masih hidup dengan setengah mati. Kulitnya terkelupas, mengundang lalat yang terus merubungi. Sungguh menyakitkan.

Itulah adzab yang Allah segerakan. Benar sabda Rasul:

“Man ‘aadaalii walian, faqad aadhantuhu bilharb”

Artinya: “Barang siapa menyakiti wali-Ku (hambaku yang Ku cintai). Maka Aku mengumumkan perang dengannya”. HR. Bukhari.

Allah mencintai seorang hambanya yang selalu taat melaksanakan apa yang telah Dia wajibkan kepadanya. Kemudian ia terus melaksanakan amalan nawafil (perkara sunnah bukan wajib) sampai Alah benar benar mencintainya. Allah mendengar apa yang ia dengar, Allah melihat apa yang ia lihat.
Ketika ia meminta Allah akan mengabulkannya.
Ketika ia meminta perlindungan, Allah akan memberikan perlindungan.

Pernahkah anda jatuh cinta pada seorang gadis? Jangan heran jika anda mengatakan. Gunung pun akan aku runtuhkan karenanya!

Jadilah kekasih-Nya. Sebab kasih-Nya tak pernah ada akhirnya…

Sana’a, 15 November 2009
When I miss…

Doakanlah saudaramu..

“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang diucapkannya tidak dihadapannya mustajab (dikabulkan Allah), disisinya ada malaikat yang diberi tugas, setiap kali ia berdoa kebaikan untuk saudaranya maka malaikat tersebut mengatakan amin dan untukmu akan mendapatkan seperti doamu untuknya”. HR. Muslim

Sahabat, dari doa yang mustadjab, dalam hadits ini rosulullah salallahu alaihi wassalam menyatakan, adalah dengan cara mendoakan saudaranya.
Mungkin kita pernah bertanya. Sekian kali kita berdoa, tetapi Allah belum jua mengabulkan permintaan kita. Kita mengetahui bahwa Allah subhanahu wata’ala malu, jika hamba-Nya mengangkat tangan, meratap dan berdoa, kemudian tidak dikabulkan. Lantas kenapa doa kita belum terkabul?.
Sahabat, jangan sampai perasaan ini mampir di benak kita. Sebab Rasulullah menyatakan, bahwa Allah tergantung anggapan hambanya (ana ‘inda dhonni ‘abdi bii).
Allah akan dekat dengan kita, jika kita merasa Dia dekat dengan kita. Jika kita selangkah mendekatai-Nya, seribu langkah Ia mendekati kita.
Dalam sebuah hadits rasulullah menyatakan: “Do’a seseorang dikabulkan, selama ia belum berkata ‘Saya telah berdoa, tapi Ia tidak mengabulkan” HR. Bukhori Muslim. Naudzubillah hi mindzalik.
Secara rasional, bagaimana Allah akan mengabulkan do’a seseorang?, jika ia tidak yakin dengan sepenuh hati doanya akan dikabulkan. Seperti halnya anggapan orang orang yang menganut faham pluralisme. Mereka beranggapan, apapun agamanya, siapapun tuhannya, yang penting ia taat. Pada akhirnya Allah akan memasukkannya ke syurga-Nya. Ini sungguh tidak masuk akal!. Bagai mana Allah akan memasukkan ia kesyurga-Nya?, Sedang ia tidak meyakini, tidak mengakui eksistensi Allah sebagai tuhan satu yang wajib diibadahi?
Kembali ke bahasan kita. Terkabulnya do’a mungkin tidak serta merta kita dapatkan.
Dari Abi Sa’id Al-Khudri radiallahu anhu, Rasulullah salallahu alaihi wasallam bersabda: “Doa seorang hamba terkabul melalui satu dari tiga hal: Dikabulkan doanya dengan segera, sebagai tabungan amal sholeh di akhirat, atau sebagai penghalang kejelekan sepertinya” HR Bukhari dan Muslim.
Jadi yakinlah terus berdoa, karena do’a adalah bentuk ketundukan kita sebagai manusia kapada Allah, Illah yang telah mengkaruniakan berbagai macam nikmat yang tak mungkin terabadikan dalam tulisan. Walau seluruh air laut sebagai tinta dan pepohonan dijadikan kertas. Maha Besar Allah.
Sahabat, ketika kita mendoakan saudara sesama muslim. Ketika dia tidak berada didekat kita. Merupakan suatu ketulusan hati. Kasih kita pada sesama. Agama Islam memang berulang memerintahkan ummatnya untuk membina kerukunan, kasih sayang, bahkan dengan non-muslim sekalipun.
Imam Nawawi dalam syarah (penjelasan) shahih Muslim. Bahwa Imam Malik berkata: “Seluruh adab kebaikan bercabang dari empat hadits; sabda Rasul: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka berkatalah sesuatu yang baik atau diam” Sabda Rosul: “Dari kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat”. Sabda Rosul kepada sahabat yang meminta nasihatnya diringkas: “Jangan marah” dan sabda Rosul: “Tidak beriman seorang diantara kalian, sampai ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri”
Jika hal ini tertanam dihati kita, akan hilang rasa iri, dengki, takabur dan sebagainya. Akan tumbuh rasa kasih mengasihi. Akan tercipta kerukunan antar sesama. Persaudaraan yang didasari oleh keyakinan keimanan. Tak mengharap balas kecuali dari-Nya. Allahu a’lam bishawab.

*When I felt missing…

Bukan kambing…

Kalau saja seekor kambing, ditawari dua keranjang. Keranjang rumput dan keranjang emas. Kambing akan memilih keranjang rumput. Lain halnya dengan manusia yang mengetahui nilai dan harga emas, ia akan memilih keranjang emas. Kalaupun manusia, tapi ia tak kenal ‘peradaban’, tak kenal nilai emas. Yang ia tahu hanya beternak kambing, maka pilihannya akan sama dengan pilihan kambing. Ia akan memilih keranjang rumput.
Sebagai manusia yang dikaruniai akal, kita seharusnya pandai menggunakan potensi ini. Potensi berfikir, melihat dan mendengar.
Apalagi sebagai seorang muslim harus mampu memilah mana yang seharusnya dikerjakan dan mana yang mesti dijauhi.
Salah satu syarat kita unutuk mencapai derajat disisi Allah adalah dengan ilmu pengetahuan. Baik ilmu syar’i yang mempelajari kaidah dan hukum-hukum dien ini. Maupun ilmu alam, tekhnologi atau ilmu kauniyah yang akan menambah keyakinan kita akan kebenaran Allah yang tergambar dari apa yang tercipta di alam semesta ini. Ilmu pengetahuan dan tekhnologi bukan suatu hal yang akan menjauhkan dari fitrah manusia untuk tunduk kepada Sang Pencipta. Tapi sebaliknya dengan terus menggali rahasia pengetahuan alam semesta ini akan lebih mendekatkan kepada-Nya.
Hari-hari ini merupakan sepuluh hari terakhir (‘asyrul awakhir) di buan Ramadhan. Banyak diriwayatkan di malam-malam ganjil sepuluh akhir bulan ini terdapat malam lailatul Qadar. Malam yang kemuliaannya sebanding dengan seribu bulan.
Suatu keistimewaan bagi ummat ini. Walau ummat Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam tidak ada yang memiliki umur sepanjang ummat sebelumnya. Contohnya nabi Nuh ‘alaihi salam yang masa dakwahnya saja 950 tahun atau seribu tahun kurang lima puluh (alfu sanah illa khamsin). Tapi ummat ini dikaruniai waktu waktu dan tempat tempat yang memiliki keistimewaan.
Tempat tempat yang memiliki keistimewaan dan kita dianjurkan untuk banyak menziarahinya antara lain Masjidil Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjid Al-Aqsa di Falestina.
Maka pembebasan Falestina dari hegemoni Zionis adalah masalah aqidah. Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama ummat islam, yang kemudian dipindahkan ke arah ka’bah di Makkah Al-Mukaramah.
Jangan sampai kita terpengaruh oleh kelicikan musuh-musuh Allah yang memalingkan kita darinya. Al-Aqsa bukan kubah Al-Shakra (Masjid berkubah kuning keemasan) yang sering di tampilkan oleh media.
Jangan pula terpengaruh oleh orang-orang yang mencoba mengkaburkan makna Al-Aqsa. Ini seperti apa yang di ceritakan Oleh Ust. Syuhada Bahri dalam satu ceramahnya: Pada suatu perayaan Isra Mi’raj. Panitia mengundang seorang doktor untuk menjadi ceramah. Dalam ceramahnya doktor ini, menyatakan bahwa arti Al-Aqsa adalah ‘tempat yang jauh’ di langit sana. Tentu saja ini suatu pengaburan yang menyesatkan.
Pada waktu itu ada seorang anak muda yang usil, bertanya: ”Pak!, dulu kan kiblat umat islam menghadap Al-Aqsa, sebelum dipindah menghadap ka’bah. Naah, apa rasulullah kalo shalat sambul tidur terlentang?”.
Kemudian keutamaan waktu-waktu tertentu yang diberikan kepada ummat ini diantaranya adalah malam lailatul Qadar.
Kita seharusnya tahu nilai yang terdapat pada malam ini. Dan harus mempunyai kemauan dan harapan untuk mendapatkannya.
Rasulullah pada akhir ramadhan ini melebihkan aktifitas ibadahnya dari hari-hari sebelumnya. Seperti tersirat dalam hadits yang diriwayatkan muslim:
”Kaana rosulillah salallahu ‘alaihi wasalam yajtahidu fi ‘asyril awakhiri maala yajtahidu fi goirihi”
Artinya: Kesungguhan rasulullah pada sepuluh hari terakhir melebihi kesungguhannya di hari-hari sebelumnya”
Dari ‘aisah yang diriwayatkan bukhari dan muslim:
”kaana rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam idza dakhala al’asyr syadda ma’zarahu wa ahya lailahu wa aiqadha ahlahu”
Artinya: ”memasuki hari sepuluh (terakhir), rasulullah mengencangkan ikat pinggangnya (tidak mendekati perempuan), menghidupkan malam-malamnya (dengan beribadah) dan membangunkan keluarganya”
Di sepuluh hari terakhir ini Rasulullah selalu beri’tikaf, bahkan pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf di dua puluh hari terakhir.
Dari ‘Aisyah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
”Kaana rosulullah salallahu ‘alaihi wasalam ya’takiful asyaral awakhir hatta tawafahullahu…”
Artinya: ”Rasulullah selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir sampai beliau wafat”
Itikaf adalah berdiam diri di masjid dengan maksud kethaatan dan beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala baik dalam tenggang waktu yang lama atau tidak.
I’tikaf bisa dilakukan disetiap masjid yang didirikan shalat jamaah didalamnya.
Sebagai manusia cerdas tentu kita tidak mau kehilangan kesempatan yang amat berharga ini.
Benar seperti apa yang ditulis seseorang di comment box salah satu situs jejaring: ”Ada gak sich dalilnya, kalo lailatul qadar itu ada di Mall Matahari, Ramayana atau Giant?!”
Lucu memang, tapi ya begitulah. Biasanya enggak siapa enggak siapa. Pada akhir bulan ini, bukannya semakin memperketat frekuensi ibadah. Malah sebaliknya kuat jalan-jalan ke mall, rajin lihat mode pakean terbaru, sibuk menyiapkan menu lebaran, janjian sama doi lah…
Seakan gembira akan ditinggal oleh bulan yang penuh rahmah, maghfirah dan’itqu munannar ini. Padahal belum tentu kita akan bertemu dengan ramadhan tahun depan.
Semoga kita bisa memuhasabah diri. Masih ada kesempatan kita untuk menutup kelalaian yang kita perbuat dalam mengisi bulan ini. Kita bukan kambing yang memulih rumput, menghamburkan waktu untuk kesiasiaan.
Tapi kita adalam manusia, muslim yang cerdas. Wallahu’alam bishawab.