Jurnal-bebas

Home Jurnal-bebas Page 3

Sharpening my pen

0

Pagi tadi, aku menerima email dari CORSEC DD. Milis khusus bagi divisi marketing jejaring Dompet Dhuafa. Karena aku menjadi webmaster web institutkemandirian.org, aku menjadi jadi tergabung di dalamnya (walau pun statusku di IK hanya sebagai freelance/volunteers, entah apakah akan tetap seperti ini).
Isinya undangan pelatihan jurnalistik bagi webmaster, Humas, atau Media Officer Jejaring Dompet Dhuafa. Peserta terbatas hanya bagi satu orang.
Setelah dibaca, email langsung aku forward ke beberapa Staff Institut Kemandirian (IK).
Beberapa saat kemudian Pak Isnadi, Ketua Divisi Humas IK meminta aku yang mewakili IK.
Selang beberapa saat, Ibu Sulistyawatiningsih, Dir Eksekutif IK, menanyakan kesiapanku untuk mengikuti acara ini melalui email.
Acaranya cukup panjang, dari jam 08.00 – 17.00 jika mampu berjalan sesuai jadwal.
Walaupun lokasinya yaitu gedung Disaster Management Centre (DMC) aku belum tahu, tapi aku merasa senang.
Yak, itung-itung belajar, kembali mengasah kemampuan. Jujur, belakangan ini aku merasa penat, seakan otak ini terasa bebal untuk berfikir. Hanya untuk menulis berita di web institutkemandirian.org saja ribetnya minta ampun, gelap terasa. Tapi aku yakin bisa!!!.
Menulis, walau pun hanya sekedar coretan-coretan memang sudah menjadi salah satu hobby, senang sekali kalau sudah memulai. Tapi kadang ketidak disiplinan yang menghambat. Sehingga pendar-pendar ide dan ketajaman menulis seperti kerlip lilin, kadang terang dan kadang hampir padam.
Aku kadang mengernyitkan dahi, ketika membuka kembali tulisan-tulisanku yang telah lama. Seakan tak percaya bahwa itu adalah tulisanku sendiri. Ada yang sedikit ilmiyah, ada yang kocak, norak yang sok puitis juga ada.
Jadi teringan pada sebuh motto yang sering ditulis oleh seorang sahabat. “Bisa karena Biasa”. Ya, segala sesuatu memang perlu dimulai dan dibiasakan.
Ketika kita memulai, itu berarti kita memulai satu kebiasaan. Tinggal bagai mana kita, apakah akan melanjutkan kebiasaan itu atau tidak.
Seperti apa yang sering disabdakan Rasulullah, dalam hal ibadah pun bukan quantitasnya yang brug sekali langsung banyak, lalu sekian lama kemudian tidak dikerjakan. Tapi yang dawam/continue alias terus menerus walau pun sedikit. Alon-alon asal kelakon.
Dalam Al-Qur’an pun disebutkan “…Ayyukum ahsanu ‘amala” (siapa yang melakukan ‘amal dengan sebaik-baiknya) bukan “Aktsaru ‘amala” (kuantitas atau banyaknya ‘amal).
Ini berarti bukan kita tidak boleh banyak beramal, tetapi yang ditekankan adalah konsistensi, keistiqomahan kita dalam berbuat.
so, write, write and write….. for sharpening your pen.

Menajamkan pena

0

Lupa, ya siapa yang tak pernah merasa lupa. Ibarat pisau yang tak pernah dipakai atau diasah, ia akan semakin tumpul.
Demikian juga otak manusia, perkembangannya dari masa kanak-anak, remaja, dewasa dan tua. Fase setelah usia kita senja kemampuan kita tidak setajam ketika kita masih belia.
Maka diaumpamakan juga; belajar diwaktu kecil seperti mengukir diatas batu, dan mengukir di masa tua, ibarat mengukir diatas air. Mengukir diatas batu, akan membekas sampai lama, walau ketika mengukirnya harus keras. Sedang mengukir diatas air, apa artinya? ia akan sedemikian cepat hilang.
Tapi ada beberapa tips agar kita tidak cepat lupa, yaitu dengan mengulang ulang.
Kita semua pernah menjalani pendidikan sekolah dasar. Ketika itu kita bisa mengisi soal-soal dengan rapi dan benar. Tapi akan kah saat ini kita masih mampu seperti dulu? tentu tidak, karena akan banyak yang lupa. Kecuali bagi anda yang memang masih konsen dibidang pendidikan dan keilmuan. Tapi yang kemudian setelah dewasa memiliki profesi lain, tentu akan semakin banyak terlupa.
Maka kenapa kita diajarkan untuk menulis, mencatat setiap ilmu yang kita dapatkan. Karena ketika kita mencari ilmu atau belajar, diibaratkan kita sedang berburu. Ketika mampu mendapatkan hewan buruan, ikatlah dia dengan tali yang kuat. Sebab jika ia dibiarkan begitu saja, tentu akan pergi dengan sendirinya.
Pandai berorasi, berpidato saja tidak cukup. Ini karena beberapa sebab; objek yang menerima hanya orang-orang yang hadir di lokasi, dan cenderung hanya segelintir saja. Juga waktunya hanya saat itu saja. Terbatas, waktu dan tempat.
Tetapi ketika kita mencatat, ketika mendokumentasikan apa yang kita dapat, Ini akan lebih bertahan lama.
Mencatat bisa dengan bentuk tulisan. Juga pada masa ini, bisa juga dengan merecord dengan kamera atau video.
banyak sekali arti penting kemampuan menulis ini.
Tapi kadang kita malas, tidak mampu menulis, padalah laptop sudah menyala, tapi otak seakan mati lampu. gelap ide.
yach, seperti halnya saya, tulisan ini pun entah maksudnya apa, yang penting Heppy he2, bisa nulis.
Karena memang tips supaya kita bisa menulis hanya dua.
Menulis dan terus menulis :-) Teori saja gak cukup, seperti halnya renang. Anda tidak usah membuat karya ilmiah, puisi, status pengumuman atau sebagainya yang menyatakan bahwa anda mahir berenang. Tapi buktikanlah dengan mencemplungkan diri di kolam renang. Manusia akan melihat, gaya apa yang akan anda tunjukan. Gaya kupu-kupu atau gaya batu (alias tenggelam).
Begin from small and act Now.

Ikhlas bukan tanpa pamrih

0

Anda mungkin sudah tahu kisah tentang seorang wanita tuna susila yang masuk syurga karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.

Tapi apakah anda berfikir, bahwa setiap orang berdosa akan diampuni dan masuk syurga ketika ia mau memberi minum seekor anjing?

Em, ternyata tidak. Menurut Syeikhul Islam Ibnu Taimiah, hal ini karena wanita tadi melakukannya karena keikhlasan iman kepada Allah. Mengharap ridha Allah. Jika tidak karenanya, tak akan membuatnya mendapat ampunan dari Allah.

Lalu apa ikhlas itu?

Kadang kita mengertikan ikhlas dengan tanpa pamrih. Tanpa pamrih yang berarti tidak mengharapkan apapun.
Apakah termasuk tanpa pamrih keridhaan dari Allah?
Saya teringat ucapan Pak Abdul Basith, “Coba berikan uang lebih ketika anda memberikan bayaran ke tukang parkir, sopir, penjual atau lainnya. Ketika mereka berucap terimakasih. Mintakan doa pada mereka. Bukan tanpa pamrih.”.
Jadi, tak cukup kita mengucap ikhlas jika diartikan tanpa pamrih apapun. Tapi iringilah dengan harapan keridhaan dari Allah.
lukman-elhakim.com

900SubscribersSubscribe

Popular Posts

My Favorites

googlealerts

Tahukah anda Google Alerts?

lukman-elhakim.com - Posisi pertama google merupakan harapan bagi setiap kita. Karena dengan menempati posisi pertama banyak manfaat yang akan kita dapat. Walau posisi pertama...

Gimana klo kamu mimpi buruk?