Jurnal-bebas

Home Jurnal-bebas Page 2

Biar gak ada dompet, asal ada yang bayarin.

0

Ini ceritaku, rasanya sayang kalo terlewat begitu saja. Biarlah sobat menertawaiku, bilang kacian atau apalah.

“Tragedi” ini terjadi hari ahad lalu. ini hari senin tapi sudah masuk selasa, sebab jam sudah menunjukan pukul 00.35 :-) berarti sehari yang lalu. Yach, lumayan masih anget.

Hari ahad, hari libur bagi sebagaian makhluk di muka bumi ini he2. Tapi ada sebagian manusia yang menggunakan hari ini layaknya aktifitas hari-hari lain. Ya, diantaranya aku. Hari ahad merupakan salah satu dari tiga hari masuk kuliah kampus.

Ok, jadwal minggu ini kebetulan ada UAS makul Tafsir semester tujuh. Dosen pembimbingnya Prof. Drs. Dr. Ahmad Thib Raya, MA. Sebuah keberuntungan bagi kami, diberi kesempatan bertatap muka dengan dosen yang berkaliber nasional bahkan internasional. Sampai-sampai beberapa dosen berkata; “Kami hanya dapat diajar oleh beliau di jenjang s2 minimal, atau s3”.

Sebuah kebanggaan, walau parameter keilmuan tidak bisa diukur oleh fasilitas yang lux, tanpa diimbangi oleh faktor-faktor penunjang lain, yang utama adalah motivasi dan kesungguhan dari individu mahasiswa sendiri.

Masuk ke poin cerita. Keluar dari ruang ujian pukul sebelas limapuluh. Shalat dhuhur. Alarm perut sudah berbunyi. Koneksi tersambung ke otak dan dieksekusi oleh pikiran. “Apa yang ane santap?”.

Jalan ke kantin, bangku terisi penuh. Akhirnya jalan keluar depan gerbang kampus. Target biasanya batagor, tapi kali ini perut sedang ingin mencoba somay. Em, di bangku ternyata sudah ada dosen, Pak Rahmat Irfani. Dosen muda, berperawakan tinggi, putih, rambut cukur tipis dan berkacamata. Ku kira beliau pesan somay juga. Ternyata bukan, beliau memesan ketoprak.

Awalnya agak sungkan duduk bersebelahan. Tapi karena aspirasi perut yang terus meronta dan memberontak. Kuputuskan tegur sapa dan duduk didekat beliau.

Sambil menikmati siomay, obrolan ringan sampai berat pun mengalir beitu saja. Mulai dari topik kampus hari ini. Sampai cerita perjalana akademis beliau, yang sekarang sedang menyusun disertasi untuk mendapatkan gelar doktor.

Dengan berbekal ilmu quantum listening (he2). Aku mendengarkan dengan penuh antusias, dan sesekali bertanya. Sampai tak terasa somay yang aku santap, habis.

Kuletakan piring dibawah bangku. Tangan masuk kantong celana depan sebelah kiri. Kosong, gak ada uang. Kurogoh kantong celana sebelah kanan. Kosong. Dompet di kantong belakang. Juga kosong. Rupanya dompetku tertinggal di rumah. Alah mak…. Sejenak otak ku crash, not responding, bingung, mo bayar gimana neh.

Tapi aku menutupi kegalauan yang melanda. Dan terus melanjutkan obrolan dengan Pak Dosen. Ketoprak beliau belum habis. Aku mendahului menghabiskan somay, mungkin karena suka, atau mungkin juga kelaparan. Ah, up to you aja dech, mo kira apa.

Akhirnya piring ketoprak yang sedang disantap Pak Rahmat, habis. Beliau berdiri dan mendekati tukang somay, yang tadi aku nikmati. Beliau mengeluarkan uang dan bilang, bayar somay yang aku santap. Duh, malu ada, pengen ketawa juga ada. :-)

Moga kebaikannya  Allah balas dengan kebaikan, karena Allah sebaik-baik pemberi balasan.

 

Tangerang, 01:00 08/03/2012

Harus bisa merasa, tidak hanya merasa bisa…

3

“Kerja keras adalah harga mati yang harus di bayar untuk sebuah kesuksesan”. kira-kira seperti itu kata-kata yang dituliskan oleh Bruce Lee, aktor kungfu legendaris dari cina.

Harga, ya. Untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, kita harus membayar seharga dengan apa yang kita inginkan itu.

Apakah anda akan mendapatkan Pitza? jika anda hanya memiliki uang lima ratus rupiah.

Ya, uang lima ratus rupiah paling banter dapet bala-bala bin bakwan.

Apakah anda akan ngotot menjual bakwan dipinggiran jalan dengan harga dua puluh ribu rupiah per biji? padahal orang bisa mendapatkan bakwan serupa dengan harga lima ratus rupiah.

Jadi, untuk mendapatkan, kita harus mengeluarkan ongkos sesuai dengan harga barang yang kita inginkan.

Dan untuk menjual barang barang dengan harga tinggi, kita harus menjadikan harga barang yang kita jual menjadi bernilai lebih.

Semuanya ada harga yang harus kita bayar. Dan harga tidak hanya berbentuk uang, tapi bisa juga nilai diri kita. Nilai apa yang kita jual.

Seorang musisi akan dibayar mahal, karena mereka memang mempunyai nilai popularitas dan profesional yang tinggi.

Tapi seorang pengamen jalanan, akan dibayar murah bahkan mungkin sering kelaparan, padahal energi yang dia keluarkan lebih keras dari pada seorang musisi terkanal ketika pentas diatas panggung.

Why? siapa yang protes?

Ini yang mendasari judul diatas “harus bisa merasa, tidak hanya merasa bisa”.

Kita semestinya lebih pandai lagi melihat diri, muhasabah atau instrospeksi.

Kita kadang menginginkan sesuatu, tapi kita tidak bertanya; “Pantaskah aku mendapatkan yang aku inginkan?”.

“Ihfadzillah, Allah yahfadzuk” (aw kama qaal) “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu”.

Kita sering meratap pada Allah, ketika ujian menerpa, ketika datang kesedihan. Saat itu kita Memohon dan meminta… Lalu merasa, kenapa Allah tidak mengabulkan dia kita?

Hem, sudahkah kita menjaga Allah dalam hati kita. “imtishal awamirihi, wa ijtinab min nawahihi”. Melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangannya.

Kita akan malu meminta nilai bagus pada dosen, jika kita merasa jarang masuk kelas, tidak mengerjakan tugas, tidak dekat, atau bahkan tidak kenal.

Jadi, kita harus merasa juga, kepantasan diri ini untuk mendaptkan apa yang kita inginkan.

Dalam Al-Qur’an, Allah berkata ” At-tayibu li tayyibat…” Lelaki yang baik, sepantasnya mendapatkan perempuan yang baik. Begitu pula sebaliknya.

Jika kita ingin mendaptkan pasangan atau teman yang baik, kita harus memperbaiki diri kita.

——

Yaa mu’alima sulaimana ‘allimna, wa yaa Mufahima Ibromima Fahhimna…

Doakanlah saudaramu..

2

“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang diucapkannya tidak dihadapannya mustajab (dikabulkan Allah), disisinya ada malaikat yang diberi tugas, setiap kali ia berdoa kebaikan untuk saudaranya maka malaikat tersebut mengatakan amin dan untukmu akan mendapatkan seperti doamu untuknya”. HR. Muslim

Sahabat, dari doa yang mustadjab, dalam hadits ini rosulullah salallahu alaihi wassalam menyatakan, adalah dengan cara mendoakan saudaranya.
Mungkin kita pernah bertanya. Sekian kali kita berdoa, tetapi Allah belum jua mengabulkan permintaan kita. Kita mengetahui bahwa Allah subhanahu wata’ala malu, jika hamba-Nya mengangkat tangan, meratap dan berdoa, kemudian tidak dikabulkan. Lantas kenapa doa kita belum terkabul?.
Sahabat, jangan sampai perasaan ini mampir di benak kita. Sebab Rasulullah menyatakan, bahwa Allah tergantung anggapan hambanya (ana ‘inda dhonni ‘abdi bii).
Allah akan dekat dengan kita, jika kita merasa Dia dekat dengan kita. Jika kita selangkah mendekatai-Nya, seribu langkah Ia mendekati kita.
Dalam sebuah hadits rasulullah menyatakan: “Do’a seseorang dikabulkan, selama ia belum berkata ‘Saya telah berdoa, tapi Ia tidak mengabulkan” HR. Bukhori Muslim. Naudzubillah hi mindzalik.
Secara rasional, bagaimana Allah akan mengabulkan do’a seseorang?, jika ia tidak yakin dengan sepenuh hati doanya akan dikabulkan. Seperti halnya anggapan orang orang yang menganut faham pluralisme. Mereka beranggapan, apapun agamanya, siapapun tuhannya, yang penting ia taat. Pada akhirnya Allah akan memasukkannya ke syurga-Nya. Ini sungguh tidak masuk akal!. Bagai mana Allah akan memasukkan ia kesyurga-Nya?, Sedang ia tidak meyakini, tidak mengakui eksistensi Allah sebagai tuhan satu yang wajib diibadahi?
Kembali ke bahasan kita. Terkabulnya do’a mungkin tidak serta merta kita dapatkan.
Dari Abi Sa’id Al-Khudri radiallahu anhu, Rasulullah salallahu alaihi wasallam bersabda: “Doa seorang hamba terkabul melalui satu dari tiga hal: Dikabulkan doanya dengan segera, sebagai tabungan amal sholeh di akhirat, atau sebagai penghalang kejelekan sepertinya” HR Bukhari dan Muslim.
Jadi yakinlah terus berdoa, karena do’a adalah bentuk ketundukan kita sebagai manusia kapada Allah, Illah yang telah mengkaruniakan berbagai macam nikmat yang tak mungkin terabadikan dalam tulisan. Walau seluruh air laut sebagai tinta dan pepohonan dijadikan kertas. Maha Besar Allah.
Sahabat, ketika kita mendoakan saudara sesama muslim. Ketika dia tidak berada didekat kita. Merupakan suatu ketulusan hati. Kasih kita pada sesama. Agama Islam memang berulang memerintahkan ummatnya untuk membina kerukunan, kasih sayang, bahkan dengan non-muslim sekalipun.
Imam Nawawi dalam syarah (penjelasan) shahih Muslim. Bahwa Imam Malik berkata: “Seluruh adab kebaikan bercabang dari empat hadits; sabda Rasul: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka berkatalah sesuatu yang baik atau diam” Sabda Rosul: “Dari kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat”. Sabda Rosul kepada sahabat yang meminta nasihatnya diringkas: “Jangan marah” dan sabda Rosul: “Tidak beriman seorang diantara kalian, sampai ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri”
Jika hal ini tertanam dihati kita, akan hilang rasa iri, dengki, takabur dan sebagainya. Akan tumbuh rasa kasih mengasihi. Akan tercipta kerukunan antar sesama. Persaudaraan yang didasari oleh keyakinan keimanan. Tak mengharap balas kecuali dari-Nya. Allahu a’lam bishawab.

*When I felt missing…

900SubscribersSubscribe

Popular Posts

My Favorites

Info UTS Aika IV FISIP UMT 2020-2

Bismillahirrahmaanirrahim. Berikut adalah Data Nama yang sudah mengikuti UTS Aika IV FISIP 2020-2: Untuk Mahasiswa yang belum mengikuti UTS, atau yang telambat mengupload jawaban UTS, silahkan...

Lupa rakaat..

tuk Kekasihku…