Google hapus Google Apps Free

Pagi ini saya menerima surat cinta dari google :-D. Intinya google memutus layanan Google apps versi free. Dengan google apps kita dapat membuat email dengan domain milik pribadi, contohnya: kotaksurat@lukman-elhakim.com. Google memungkinkan kita membuat maksimal sampai 10 account. Layanan lain, web instant, callendar, video dll.

Berikut ini email yang saya terima:

Salam dari Google, 

Berikut ini beberapa berita penting tentang Google Apps—namun jangan khawatir, Anda tidak perlu melakukan apa-apa. Kami hanya ingin Anda mengetahui bahwa kami melakukan perubahan pada paket yang kami tawarkan.

Mulai sekarang, kami tidak lagi menerima pendaftaran baru untuk versi gratis Google Apps (versi yang saat ini Anda gunakan). Karena Anda sudah menjadi pelanggan, perubahan ini tidak berpengaruh terhadap layanan Anda, dan Anda dapat terus menggunakan Google Apps secara gratis.

Jika Anda ingin meningkatkan versi ke Google Apps for Business, Anda akan menikmati manfaat seperti dukungan pelanggan 7 x 24 jam, kotak masuk 25 GB, kontrol bisnis, jaminan waktu operasional 99,9%, pengguna tak terbatas, dan banyak lagi, hanya dengan per pengguna, per bulan.

Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang perubahan ini di Pusat Bantuan kami atau di Enterprise Blog.

Terima kasih telah menggunakan Google Apps.

Clay Bavor
Direktur, Google Apps

 

 

Asbun

lukman-elhakim.com: Asbun, alias asal bunyi. Kalo terompet bunyi, apapun bunyinya, menjadi tanda keberhasilan pembuat terompet.

Kenalpot bunyi, berarti motor atau mobilnya masih bisa hidup. Bayi yang baru lahir kemudian bunyi (baca: nangis), suatu kebahagiaan bagi orang taunya.

Tapi kalau manusia dewasa yang mempunyai kebiasaan asal bunyi alias asbun. Akan jadi penyakit dan cacat yang memalukan. memalukan bagi orang tua, mertua, isteri, suami, anak, engkong, tante, dan seluruh rt, kelurahan, juga negara Indonesia yang kita diami ini he2. Tapi anehnya, orang yang asbun, jarang, bahkan tidak akan merasa malu. Sebab itu sudah penyakit bagi dirinya. Seolah buang angin dengan wangi busuk (wangi busuk ya?). Nyamuk bisa mati, cicak gemetar, manusia yang ada disampingnya bisa pingsan. Tapi dia yang buang angin, tersenyum manis, semanis kopi gak pake gula (pait jadinya).

Ya, begitulah asbun. Banyak sekali penyebabnya. Entah karena ingin dipandang sebagai seorang pakar yang kompeten dibidangnya. Sehingga sangat layak menjadi idaman para calon mertua he2.

Asbun memang bisa menjadi wasilah penghidupan (he2). Anda yang pintar memuji, layak mendapat imbalan. Kasus ini biasa dikenal dengan isitilah ABS atau AIS. Asal Bapak Senang, atau Asal Ibu Senang. Dan memang efektif. Semakin anda pandai melobi manusia-manusia serakah pujian, makan akan terbuka pintu untuk mempertebal dompet anda.

Dampak dari merambahnya situs jejaring pun turut menyuburkan penyakit ini (ma..aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaf he2). Bagi yang merasa sich. Kadang ke kamar mandi, pusing kepala dikit, digigit nyamuk, keseleo, bokek (malu-maluin kalo ini). Dipajang di wall status Facebook. Apakah ini juga termasuk kategori asbun?. Tapi biasanya gejala ini sering diidentifikasi sebagai penyakit lebay bin lebong he2. Up to you dah.

Anda akan banyak menemui si Asbun ini. Sperti halnya saya baru menemukannya ketika membaca tulisan: Dalam Pendidikan Karakter, Berzina Belum Tentu Dosa di Eramuslim. Ada seseorang yang dengan lantang berteriak:

Pertanyaannya, kenapa pendidikan karakter ala Barat bisa membuat masyarakat di Barat itu on time, bersih, disiplin, dll ; sementara Indonesia yang mayoritas muslim gagal membentuk masyarakat yang on time, bersih, disiplin, dll ?
Apakah sistem pendidikan kita (yang katanya Islami itu) tidak memandang on time, bersih, dan disiplin itu sebagai hal yang penting ? Atau cara mendidiknya yang salah ?

Em, Entah dari sudut pandang mana berfikirnya. Mestinya pembaca Eramuslim yang nota bene menyarakan Islam dengan pemahaman yang cukup baik. Pola pikirnya telah terbina. But, ya itulah. Fakta memang membuktikan. Kata-kata Muhammad Abduh: Al-islamu mahjubun bil muslimin masih nyata sampai saat ini. Sampai akhir ketika Isa Almasih di akhir jaman saja sepertinya akan berakhir.

Kita sering keliru, mana ajaran islam yang benar. Dengan mana aplikasi muslim yang kadang keliru. Contohnya tentang kebersihan. Islam telah mengajarkan pentingnya kebersihan. Detail. Mulai dari mandi, berwudlu, macam-macam najis, sampai air yagn suci dan tidak suci ada perinciannya. Mana ada di ajaran lain yang menjelaskan seperti ini?

Hanya aplikasinya memang masih kadang menyimpang. Maka tidak heran jika seorang alim berkata. Aku menemukan ajaran Islam di singapura, tapi tidak menemukan muslim disana. Artinya, ajaran kebersihan seperti diajarkan oleh Islam, telah dilaksanakan di Singapura. Walau yang melaksanakannya bukan musliam.

Kemudian. Aku menemukan muslim di Indonesia, tapi tidak menemukan ajarannya disini. Kaum muslimin di Indonesia banyak, tapi masih sedikit yang menjalankan Islam sesuai dengan ajarannya secara menyeluruh :-)

Demikian juga dengan asbun. Asal bunyi dalam Islam juga tidak luput dari pembahasan. Seperti: Falyaqul Khairan, auliyasmut. (berkatalah yang baik, atau diam), Al-lisanu kassaif, fain taqtaha, yaqtaka (lidah ibarat pedang, jika kamu tidak menggunakannya, dia akan menebasmu).

Em, termasuk asbun kah kita?

 

Tangerang, 09-03-2012

Biar gak ada dompet, asal ada yang bayarin.

Ini ceritaku, rasanya sayang kalo terlewat begitu saja. Biarlah sobat menertawaiku, bilang kacian atau apalah.

“Tragedi” ini terjadi hari ahad lalu. ini hari senin tapi sudah masuk selasa, sebab jam sudah menunjukan pukul 00.35 :-) berarti sehari yang lalu. Yach, lumayan masih anget.

Hari ahad, hari libur bagi sebagaian makhluk di muka bumi ini he2. Tapi ada sebagian manusia yang menggunakan hari ini layaknya aktifitas hari-hari lain. Ya, diantaranya aku. Hari ahad merupakan salah satu dari tiga hari masuk kuliah kampus.

Ok, jadwal minggu ini kebetulan ada UAS makul Tafsir semester tujuh. Dosen pembimbingnya Prof. Drs. Dr. Ahmad Thib Raya, MA. Sebuah keberuntungan bagi kami, diberi kesempatan bertatap muka dengan dosen yang berkaliber nasional bahkan internasional. Sampai-sampai beberapa dosen berkata; “Kami hanya dapat diajar oleh beliau di jenjang s2 minimal, atau s3”.

Sebuah kebanggaan, walau parameter keilmuan tidak bisa diukur oleh fasilitas yang lux, tanpa diimbangi oleh faktor-faktor penunjang lain, yang utama adalah motivasi dan kesungguhan dari individu mahasiswa sendiri.

Masuk ke poin cerita. Keluar dari ruang ujian pukul sebelas limapuluh. Shalat dhuhur. Alarm perut sudah berbunyi. Koneksi tersambung ke otak dan dieksekusi oleh pikiran. “Apa yang ane santap?”.

Jalan ke kantin, bangku terisi penuh. Akhirnya jalan keluar depan gerbang kampus. Target biasanya batagor, tapi kali ini perut sedang ingin mencoba somay. Em, di bangku ternyata sudah ada dosen, Pak Rahmat Irfani. Dosen muda, berperawakan tinggi, putih, rambut cukur tipis dan berkacamata. Ku kira beliau pesan somay juga. Ternyata bukan, beliau memesan ketoprak.

Awalnya agak sungkan duduk bersebelahan. Tapi karena aspirasi perut yang terus meronta dan memberontak. Kuputuskan tegur sapa dan duduk didekat beliau.

Sambil menikmati siomay, obrolan ringan sampai berat pun mengalir beitu saja. Mulai dari topik kampus hari ini. Sampai cerita perjalana akademis beliau, yang sekarang sedang menyusun disertasi untuk mendapatkan gelar doktor.

Dengan berbekal ilmu quantum listening (he2). Aku mendengarkan dengan penuh antusias, dan sesekali bertanya. Sampai tak terasa somay yang aku santap, habis.

Kuletakan piring dibawah bangku. Tangan masuk kantong celana depan sebelah kiri. Kosong, gak ada uang. Kurogoh kantong celana sebelah kanan. Kosong. Dompet di kantong belakang. Juga kosong. Rupanya dompetku tertinggal di rumah. Alah mak…. Sejenak otak ku crash, not responding, bingung, mo bayar gimana neh.

Tapi aku menutupi kegalauan yang melanda. Dan terus melanjutkan obrolan dengan Pak Dosen. Ketoprak beliau belum habis. Aku mendahului menghabiskan somay, mungkin karena suka, atau mungkin juga kelaparan. Ah, up to you aja dech, mo kira apa.

Akhirnya piring ketoprak yang sedang disantap Pak Rahmat, habis. Beliau berdiri dan mendekati tukang somay, yang tadi aku nikmati. Beliau mengeluarkan uang dan bilang, bayar somay yang aku santap. Duh, malu ada, pengen ketawa juga ada. :-)

Moga kebaikannya  Allah balas dengan kebaikan, karena Allah sebaik-baik pemberi balasan.

 

Tangerang, 01:00 08/03/2012