Sharpening my pen

Pagi tadi, aku menerima email dari CORSEC DD. Milis khusus bagi divisi marketing jejaring Dompet Dhuafa. Karena aku menjadi webmaster web institutkemandirian.org, aku menjadi jadi tergabung di dalamnya (walau pun statusku di IK hanya sebagai freelance/volunteers, entah apakah akan tetap seperti ini).
Isinya undangan pelatihan jurnalistik bagi webmaster, Humas, atau Media Officer Jejaring Dompet Dhuafa. Peserta terbatas hanya bagi satu orang.
Setelah dibaca, email langsung aku forward ke beberapa Staff Institut Kemandirian (IK).
Beberapa saat kemudian Pak Isnadi, Ketua Divisi Humas IK meminta aku yang mewakili IK.
Selang beberapa saat, Ibu Sulistyawatiningsih, Dir Eksekutif IK, menanyakan kesiapanku untuk mengikuti acara ini melalui email.
Acaranya cukup panjang, dari jam 08.00 – 17.00 jika mampu berjalan sesuai jadwal.
Walaupun lokasinya yaitu gedung Disaster Management Centre (DMC) aku belum tahu, tapi aku merasa senang.
Yak, itung-itung belajar, kembali mengasah kemampuan. Jujur, belakangan ini aku merasa penat, seakan otak ini terasa bebal untuk berfikir. Hanya untuk menulis berita di web institutkemandirian.org saja ribetnya minta ampun, gelap terasa. Tapi aku yakin bisa!!!.
Menulis, walau pun hanya sekedar coretan-coretan memang sudah menjadi salah satu hobby, senang sekali kalau sudah memulai. Tapi kadang ketidak disiplinan yang menghambat. Sehingga pendar-pendar ide dan ketajaman menulis seperti kerlip lilin, kadang terang dan kadang hampir padam.
Aku kadang mengernyitkan dahi, ketika membuka kembali tulisan-tulisanku yang telah lama. Seakan tak percaya bahwa itu adalah tulisanku sendiri. Ada yang sedikit ilmiyah, ada yang kocak, norak yang sok puitis juga ada.
Jadi teringan pada sebuh motto yang sering ditulis oleh seorang sahabat. “Bisa karena Biasa”. Ya, segala sesuatu memang perlu dimulai dan dibiasakan.
Ketika kita memulai, itu berarti kita memulai satu kebiasaan. Tinggal bagai mana kita, apakah akan melanjutkan kebiasaan itu atau tidak.
Seperti apa yang sering disabdakan Rasulullah, dalam hal ibadah pun bukan quantitasnya yang brug sekali langsung banyak, lalu sekian lama kemudian tidak dikerjakan. Tapi yang dawam/continue alias terus menerus walau pun sedikit. Alon-alon asal kelakon.
Dalam Al-Qur’an pun disebutkan “…Ayyukum ahsanu ‘amala” (siapa yang melakukan ‘amal dengan sebaik-baiknya) bukan “Aktsaru ‘amala” (kuantitas atau banyaknya ‘amal).
Ini berarti bukan kita tidak boleh banyak beramal, tetapi yang ditekankan adalah konsistensi, keistiqomahan kita dalam berbuat.
so, write, write and write….. for sharpening your pen.

Leave a Reply