Harus bisa merasa, tidak hanya merasa bisa…

“Kerja keras adalah harga mati yang harus di bayar untuk sebuah kesuksesan”. kira-kira seperti itu kata-kata yang dituliskan oleh Bruce Lee, aktor kungfu legendaris dari cina.

Harga, ya. Untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, kita harus membayar seharga dengan apa yang kita inginkan itu.

Apakah anda akan mendapatkan Pitza? jika anda hanya memiliki uang lima ratus rupiah.

Ya, uang lima ratus rupiah paling banter dapet bala-bala bin bakwan.

Apakah anda akan ngotot menjual bakwan dipinggiran jalan dengan harga dua puluh ribu rupiah per biji? padahal orang bisa mendapatkan bakwan serupa dengan harga lima ratus rupiah.

Jadi, untuk mendapatkan, kita harus mengeluarkan ongkos sesuai dengan harga barang yang kita inginkan.

Dan untuk menjual barang barang dengan harga tinggi, kita harus menjadikan harga barang yang kita jual menjadi bernilai lebih.

Semuanya ada harga yang harus kita bayar. Dan harga tidak hanya berbentuk uang, tapi bisa juga nilai diri kita. Nilai apa yang kita jual.

Seorang musisi akan dibayar mahal, karena mereka memang mempunyai nilai popularitas dan profesional yang tinggi.

Tapi seorang pengamen jalanan, akan dibayar murah bahkan mungkin sering kelaparan, padahal energi yang dia keluarkan lebih keras dari pada seorang musisi terkanal ketika pentas diatas panggung.

Why? siapa yang protes?

Ini yang mendasari judul diatas “harus bisa merasa, tidak hanya merasa bisa”.

Kita semestinya lebih pandai lagi melihat diri, muhasabah atau instrospeksi.

Kita kadang menginginkan sesuatu, tapi kita tidak bertanya; “Pantaskah aku mendapatkan yang aku inginkan?”.

“Ihfadzillah, Allah yahfadzuk” (aw kama qaal) “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu”.

Kita sering meratap pada Allah, ketika ujian menerpa, ketika datang kesedihan. Saat itu kita Memohon dan meminta… Lalu merasa, kenapa Allah tidak mengabulkan dia kita?

Hem, sudahkah kita menjaga Allah dalam hati kita. “imtishal awamirihi, wa ijtinab min nawahihi”. Melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangannya.

Kita akan malu meminta nilai bagus pada dosen, jika kita merasa jarang masuk kelas, tidak mengerjakan tugas, tidak dekat, atau bahkan tidak kenal.

Jadi, kita harus merasa juga, kepantasan diri ini untuk mendaptkan apa yang kita inginkan.

Dalam Al-Qur’an, Allah berkata ” At-tayibu li tayyibat…” Lelaki yang baik, sepantasnya mendapatkan perempuan yang baik. Begitu pula sebaliknya.

Jika kita ingin mendaptkan pasangan atau teman yang baik, kita harus memperbaiki diri kita.

——

Yaa mu’alima sulaimana ‘allimna, wa yaa Mufahima Ibromima Fahhimna…

3 Comments

  1. “kita sekarang adalah apa yang kita kerjakan dulu, dan apa yang kita kerjakan sekarang adalah apa yang akan kita dapatkan di masa mendatang”

    ane mmpir ni akh luqman k blog antm… sXan jaga silaturhmi jg. klo blh comment ttant tulisan’a, ane pngn ksh mskn. ane dah snng bhsa tulisan’a. santai tp kena, tp da sdkit point yg agak nyangkut mnrt ane. pas di hadist ““Ihfadzillah, Allah yahfadzuk”. krn agak sdkt lari dr main idea’a. itu j deh, jngn lupa mmpir jg k blog ane. lg rajin2’a nulis nih. hehehe, :D

    (bkan’a sok tau, cm brusaha sling brtukar pikirn)

Leave a Reply