Belenggu kata-kata

jangan-belenggu-kata-kata
jangan-belenggu-kata-kata

Apalah arti sebuah kata, he2 nama apa kata ya. Namun dengan kata kita bisa mengungkapkan apa yang ingin kita sampaikan. Berhati hatilah dengan kata-kata. Banyak wejangan tentang bagaimana kita harus berkata dan menggunakan lisan, lidah kita yang tak bertulang ini.

Pagi hari ini saya menemukan dua bukti betapak berpengaruh kekuatan kata pada psikologis seseorang.

Di satu group facebook, seorang rekan perempuan “keukeuh” tidak bersedia diamanahi tugas presentasi pada suatu acara yang akan dilaksanakan. Padahal beliau  salahsatu motor penggerak yang aktif, baik di dunia maya, maupun nyata. Saat manjadi mahasiswa aktif dalam keorganisasian, bahkan sekarang menjadi wartawan. Profesi yang tak mungkin dapat dilaksanakan oleh seorang yang pendiam, tak mau bergerak. Tapi kenapa beliau tidak mau mempresentasikan laporan tahunan? Sampai-sampai memberikan ultimatum, jika amanah itu tetap dibebankan padanya, Ia menyatakan tak akan hadir.

So What? Ternyata penyebabnya, beliau pernah trauma, pada suatu hari saat sekolah. Saat itu tak dapat menjawab soal pelajaran Bahasa Arab, sehingga dipanggil ke depan kelas dan Guru pengajar membentak dengan kata2 negatif.

Waktu saya masih kelas dua Mts, saya pernah diminta untuk menjawab soal bahasa Arab ke depan kelas oleh Guru, karena saya ga bisa menjawab soal, Guru itu memarahi saya di depan teman-teman, “masa soal semudah itu saja tidak bisa???”, meski teman-teman saya tidak menertawakan tapi tetap saja saya malu…

Ini bukan hanya perkara ketidakpercayaan diri tapi lebih dari itu…

Kata2 guru ini ternyata membekas dalam alam bawah sadar hingga kini, lulus kuliah dan telah bekerja.

Yang kedua, ketika membaca blog Pak Jamil Azzaini yang berjudul “Candaan Bisa Menjerumuskan” Beliau bercerita:

Saat kecil dulu saya menjadi bahan tertawaan karena bila pelajaran mengarang kalimat pertamanya pasti “pada suatu hari”. Salah satu guru saya berkata, “Kamu tidak punya bakat menulis, kamu cuma pinter menulis pada suatu hari.” Mendengar ucapan itu teman-teman saya tertawa.

Dampaknya bagi saya begitu panjang. Setiap pelajaran bahasa Indonesia dan ada tugas mengarang, saya selalu ketakutan. Ironisnya, saya mengalami kesulitan mencari kalimat lain untuk pembuka tulisan selain kata “pada suatu hari”. Dan itu berlangsung begitu lama hingga saya kuliah di IPB. Candaan tersebut begitu menyiksa saya.

Hemm… Dahsyat memang sebuah kata. Saya pribadi pernah mengalaminya. Kita tau apa yang disebut dengan sugesti, sebuah proses dimana seseorang mempengaruhi orang lain. Sugesti yang positif seperti nasihat, tentu sangat baik sekali. Namun sugesti yang timbul dari emosi yg tak terbendung, sugesti negatif akan sangat fatal.

Sebagai seorang guru, orang tua, ayah, bunda, kaka…. atau apapun. Baik yang tua pada yang muda, atau yang muda kepada yang tua.

Allah melarang kita berkata Ufh atau Ah dalam bentuk membantah, membangkang kepada orang tua. Begitupun orang tua diajarkan berkata yang baik pada anak-anaknya.

Kita harus berhati-hati. Qul khairan aw liasmut, berkatalah yang baik, atau diam. Adakalanya kita harus diam, adakalanya kita wajib angkat bicara.

Leave a Reply