Antara siap dan tidak siap

Satu hari, dosen salah satu mata kuliah berkata:

“Jangan berdoa, kalau kamu belum siap” Kata beliau.

Lho kenapa?

Ceritanya ketika beliau lulus s1 dan ingin melanjutlkan ke jenjang s2. Ikut program beasiswa di Universitas Negeri yang ada di Jakarta. Hasilnya, beliau lulus.

Tetapi akhirnya beasiswa ini tidak diambil. Kenapa? Karena jam kuliah diatir oleh dosen. Sedangkan beliau beristeri dengan 5 anak. Praktis dengan jadwal kuliah tak tentu karena diatur dosen, berbenturan dengan tugasnya mencari maisyah, nafkah keluarganya.

Kala itu ada teman beliau yang berkata, (sedikit mengomel): “Kamu dzolim dengan tidak mengambil beasiswa itu, kamu dzolim karena kamu telah menjegal, menghalangi hak orang lain untuk mendapatkan beasiswa”.

Kejadian-kejadian lain yang kita alami dalam hidup ini sepertinya ada, bahkan banyak. Tapi kita tidak dapat membuka mata mengambil hikmahnya.

Daintara kita yang menyesalkan hidup karena terjebak dalam daftar pengangguran. Andai berfikir, pekerjaan didunia ini banyak. Tapi kita yang tidak mau melangkah, atau kapasitas kita yang tidak memadai.

Laa yukallifullahi nafsan illa wus’aha. Allah tidak membebankan suatu perkara pada hambanya andai ia tidak mampu menanggung masalah tersebut.

Pernahkan kita mengambil hikmahnya.

Kadang kita bermimpi ingin kaya. Tapi apakah kita sudah siap untuk menjadi kaya?

Seorang sahabat berkata, dalam kalimat mencari rezeki, kata “mencari” berbeda dengan “menjemput”.

Ketika kita menggunakan kata “mencari’. Secara emosional, tidak sadar dan psikologi akan mempengaruhi otak bawah sadar. Bahwa kita hidup didunia ini tidak punya jatah rezeki. Oleh karena itu harus mencari. Jika ingin mendapatkan rezeki.

Maka ketika rezeki (baik harta, kesehatan dnsb), terasa sempit, kita akan sering mengeluh dan terasa sebagai beban yang sangat berat.

Berbeda dengan ketika kita menggunakan kata “menjemput”. “Menjemput rezeki”. Ketika kita menggunakan kata ‘menjemput’, kita yakin, bahwa Allah telah menjamin jatah rezeki kita selama hidup dialam dunia ini. Anda mungkin ditakdirkan kaya raya, tapi apakah cara menjemput rezeki anda sudah baik?.

Kita ambil contoh. Peminta-minta dipinggir jalan, dengan pakaian compang camping. Dekil, kurus, bau, item, kumel kucel dan amsih hidup. Yang didapat, paling hanya sekedar recehan.

berbeda dengan orang yang meminta-minta dengan menggunakan pakaian rapih, jas, kemeja, dasi spatu mengkilat, parfum plus rambut yang mengkilat, hingga andai ada lalat yang nagkring di rambutnya pasti akan terluka he2. Ya, denga pakaian rapi, plus proposal diajukan ke orang-orang kaya, pejabat . Hasilnya akan berbeda. Padahal temanya sama, meminta-minta. Hanya judul dan covernya yang berbeda.

Siap, ya kita harus siap. Bisa saja kita berbohong, membuat CV yang “wah” ketika melamar pekerjaan. Tapi apa anaknya ketika anda diterima, kemudian dipecat karena dianggap tidak kompeten?

Anda yang ingin mempunya isteri yang cantik. Sudah siapkah anda sakit liver (baca: hati) gara-gara tiap hari dilanda cemburu?

Tapi satu sisi dalam hidup ini, kita harus siap. Anda dilahirkan sebagai laki-laki, harus siap menjadi laki-laki, sebab kodratnya memang begitu.

Sekian, Allah a’lam.

datang waktu dhuhur

 

One Comment

Leave a Reply